Sabtu, 13 Oktober 2018

Buron 2 Tahun, Bekas Petinggi Lippo Group Menyerahkan Diri

Ist.
Beritabatavia.com -
Selama dua tahun buron dan kabur ke luar negeri, akhirnya bekas petinggi Lippo Group Eddy Sindoro menyerahkan diri kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tersangka kasus dugaan suap pada pengajuan Peninjauan Kembali di pengadilan Negeri Jakarta Pusat,  menyerahkan diri pada 12 Oktober 2018 pagi waktu setempat melalui Atase Kepolisian RI di Singapura.

Sebelum menyerahkan diri, Eddy Sindoro terlebih dahulu berkoordinasi dengan Taufiqurrahman Ruqi, mantan Ketua KPK. "Sekitar dua minggu lalu saya dihubungi seorang jaringan saya, kami yang biasa bergerak di bidang penyidikan punya jaringan-jaringan yang hidden di berbagai tempat dan negara, mengatakan seorang tersangka DPO KPK atas nama ESI berkeinginan menyerahkan diri," ujar mantan Ketua KPK yang menjabat sebelum Antasari Azhar tersebut, Jumat (12/10).

Sekitar pukul 12.20 waktu Singapura, Eddy Sindoro dibawa ke Indonesia menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Hampir dua jam kemudian, tepatnya pukul 14.30 wib Eddy Sindoro tiba di gedung KPK dan masih menjalani pemeriksaan hingga saat ini.

Wakil Pimpinan KPK Saut Situmorang mengatakan dihubunginya Taufiqurrahman oleh Eddy Sindoro merupakan persoalan menarik. "Ini soal trust, oleh sebab itu saya mengatakan aset-aset seperti Pak Ruqi ini yang harus di-maintain," ujarnya.

Eddy Sindoro menyatakan siap menjalani proses hukum dengan KPK. "Saya kira saya sudah di sini, dan siap untuk menjalani proses hukum yang ada, terima kasih," ujar Eddy sebelum menaiki mobil tahanan di Gedung KPK Jakarta.

Eddy merupakan tersangka dalam kasus suap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution. Kasus ini sudah bergulir sejak tahun 2016. Eddy sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka di bulan Desember 2016.

Eddy diduga terkait penyuapan dalam pengurusan sejumlah perkara beberapa perusahaan di bawah Lippo Group, yang ditangani di PN Jakarta Pusat. Meski demikian, Eddy Sindoro belum pernah diperiksa oleh penyidik KPK. Eddy selalu mangkir dalam setiap jadwal pemeriksaan yang diagendakan. Eddy Sindoro akhirnya menyerahkan diri kepada KPK. Proses penyerahan diri melalui bantuan pihak otoritas Singapura.

Eddy diduga terkait penyuapan dalam pengurusan sejumlah perkara beberapa perusahaan di bawah Lippo Group, yang ditangani di PN Jakarta Pusat. Meski demikian, Eddy Sindoro belum pernah diperiksa oleh penyidik KPK. Eddy selalu mangkir dalam setiap jadwal pemeriksaan yang diagendakan.

Pada 23 Desember 2016, Eddy Sindoro ditetapkan sebagai tersangka memberi hadiah atau janji kepada penyelenggara negara terkait perkara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Atas perbuatan tersebut Eddy Sindoro disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a dan/atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Tindak Pidana Korupsi No. 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Dalam pengembangan penyidikan, sejak November 2016 KPK sudah memeriksa 28 saksi untuk tersangka Eddy Sindoro. KPK juga menetapkan seorang advokat sebagai tersangka, Lucas, karena diduga dengan sengaja mencegah, merintangi, dan menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan KPK untuk kasus dugaan suap pada pengajuan Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan tersangka Eddy Sindoro.

Dua orang telah divonis bersalah oleh pengadilan dalam kasus ini, yaitu Doddy Aryanto Supeno (swasta) dan Edy Nasution (Panitera/Sekretaris pada PN Jakarta Pusat). Doddy divonis pidana penjara empat tahun dan denda Rp150 juta subsider enam bulan. Edy Nasution divonis pidana delapan tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider enam bulan.  0 ERZ
Berita Terpopuler