Kamis, 25 Oktober 2018

Warga Lawan Pembongkaran Portal Perumahan di Tangsel

Ist.
Beritabatavia.com - Warga Cluster Adena kelurahan Pondok Jagung, Serpong Utara, Tangerang Selatan menolak rencana pembongkaran portal oleh Satpol PP pada Kamis (25/10) "Siang ini rencananya camat [Serpong Utara] akan datang langsung untuk mengeksekusi, tapi kami akan berbicara. Surat pembongkaran sudah kami terima," kata Ketua RW Cluster Adena Budiono

Budiono menceritakan portal tersebut dibangun sejak tahun 2017, dan menghubungkan perumahan mereka dengan Kompleks Pondok Jagung dan perkampungan sekitar. "Dulu waktu kami beli dalam sistem Cluster dan hanya ada satu pintu untuk keluar masuk cluster," kata Budiono.

Kata Budiono, ada sekitar 200 unit di Cluster Adena dengan jumlah penghuni sekitar 170 Kepala Keluarga (KK). Namun, kenyataannya, ternyata ada pintu lain. Akibatnya, jalan di Cluster Adena digunakan sebagai akses jalan untuk mobil dan motor.

Sejak itu mobil dan motor milik warga di luar Cluster yang melintas jalan itu semakin ramai. Lalu, demi alasan keamanan, warga Cluster Adena kemudian menutup pintu tersebut dengan portal. "Karena cluster, kebanyakan rumah tidak memiliki pagar. Kami juga telah memberikan surat pemberitahuan pembuatan portal itu pada 2017 ke Kompleks Pondok Jagung," katanya.

Portal itu ditutup selama 24 jam. Namun, warga juga memberikan akses berupa pintu kecil yang bisa dilalui pejalan kaki dan pengguna sepeda. "Pintu kecil itu dibuka mulai pukul 05.00 WIB hingga 20.00 WIB," katanya.

Warga Cluster Adena, kata Budiono, awalnya tak tahu bahwa pengembang telah memberikan akses jalan itu kepada pemerintah kota Tangsel. Sebab, berdasarkan dokumen berupa brosur penjualan, tak ada jalan lain. "Garis tertutup dalam site plan. Seharusnya tertutup," kata Budiono.

Sebab itu, warga menolak ketika Satpol PP akan membongkar portal di wilayah mereka itu. "Kami akan melawan, ini amanah warga," kata Budiono.

Sementara itu, seorang warga Cluster Adena menceritakan sebelum ada portal tingkat keamanan di wilayahnya cukup meresahkan. "Banyak warga kehilangan laptop, burung. Bahkan, ada yang berjualan gas hampir setiap bulan kehilangan satu gas melon," katanya.

Warga khawatir bila portal dibongkar, keamanan warga Cluster akan terancam. "Bahkan pernah hampir kejadian penculikan anak," katanya.

Budiono menambahkan sejauh ini pihaknya akan mencari jalan keluar dengan Pemkot Tangerang Selatan soal persoalan pembongkaran portal itu. Sebelum Satpol PP berencana membongkar portal itu, pihaknya telah mendapatkan surat pemberitahuan.

"SP1 sudah dikirim, kami tanggapi tapi tak dibalas, begitn SP2 dan SP3, kami juga tanggapi bahkan kami juga bertemu dengan Ketua Satpol PP, dan DPRD," katanya.

Menurut Budiono seharusnya Pemkot Tangsel berlaku adil dengan tidak membongkar portal. "Kalau seperti ini kenapa hanya cluster kami yang dibongkar, silakan bongkar juga pintu-pintu cluster lainnya seperti di kompleks rumah Wali Kota Tangerang Selatan [Airin Rachmy Diany]," katanya. 0 CIO