Senin, 12 November 2018

2018, Ekspor Karet Terus Merosot

Ist.
Beritabatavia.com -
Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) prihatin ekspor komoditas karet tahun 2018 diprediksi mengalami penurunan 14,8% yakni sekitar 2,7 juta ton dibanding tahun 2017 dikisaran 3,1 juta ton. Penurunan ekspor karet ini dikarenakan produksi karet lokal yang berkurang.

"Penyebabnya karena enggak ada barang, karena produksi turun, ekspor juga turun," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo di Jakarta, Senin (12/11).

Menurut Moenardji, kebutuhan karet untuk pengolahan dalam negeri tidak meningkat secara signifikan, sehingga tidak berkontribusi mengurangi ekspor. "Stabil saja. Mungkin permintaan dalam negeri tidak begitu besar jadi enggak begitu signifikan untuk naik dan turunnya," jelasnya.

Meskipun ekspor karet Indonesia turun, namun eksportir karet tetap berusaha mempertahankan pasar di Amerika dan China. Menurunnya ekspor karet lokal ini juga terkait persaingan dagang dengan beberapa negara penghasil karet tertinggi seperti Thailand.

"Kita tetap menjaga market kita di Amerika, dan kemudian kita menurunkan ekspor ke negara keduanya China, ya di geser-geser saja begitu. Kalau persaingan ada jelas persaingan, seperti penghasil karet nomor 1 di Thailand, Vietnam dan Indochina," tegasnya.

Masalah ekspor yang terus turun ini dinilai karena harga karet global tidak bersahabat. Saat ini harga karet internasional di kisaran US$ 1.300 - US$ 1.350 per ton.

Seharusnya harga karet di pasar turut terdongkrak karena kondisi penguatan dollar terhadap rupiah, namun sejauh ini malah turun. "Memang kita pemerintah Indonesia, Thailand dan Malaysia selalu membicarakan upaya untuk memperbaiki harga dengan memberi pengaruh kepada pasar secara positif, agar harga bisa renomeratif. Itu yang diupayakan pemerintah. Usulannya ya kembali ke US$ 1.800 per ton minimal," ungkapnya.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mengklaim angka sementara ekspor karet pada tahun 2017 sebesar 2,9 juta ton senilai US$ 510. Per September 2018 ekspor karet mencapai 3,4 juta ton senilai US$ 328 juta atau naik 26,4 % dibandingkan Agustus 2018 sebesar 2,5 juta ton atau senilai US$ 350,7 juta.

Menurut Lukman Zakaria, selaku Ketua Asosiasi Petani Karet, saat ini upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi yang berkontribusi pada ekspor adalah dengan diberlakukannya pelatihan terhadap petani karet.

"Di level organisasi saja ke depan diberlakukan standar kompetensi kerja nasional demi karet berkelanjutan di Indonesia. Jadi mereka kalau kerja di industri karet luar negeri punya sertifikat, ya petani kita didik saja bagaimana lahannya jangan dijual dan tetap bertahan," ujarnya. 0 NIZ