Kamis, 15 November 2018

Menkeu Ingatkan Perbankan di Era Digital

Ist.
Beritabatavia.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani mendorong para pemimpin perusahaan perbankan untuk memahami perkembangan zaman di era digital. Sebab, sektor keuangan saat ini berada di garis depan untuk bisa menyerap dan mengakomodasi perubahan teknologi yang terjadi.

"Leadership-nya harus mampu memahami perubahan teknologi sehingga tidak mengalami nasib seperti dinosaurus yang punah," ujar Sri Mulyani di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (15/11),

Sri Mulyani mengatakan tantangan industri keuangan dan perbankan ke depannya tidak mudah. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap industri perbankan Indonesia yang terus bertahan dalam 20 tahun terakhir, meski diterpa berbagai ujian.

Ujian yang ia maksud antara lain krisis keuangan global pada 2008-2009 lalu. Krisis tersebut, saat itu, mengancam hampir seluruh perekonomian negara di dunia. Namun, di saat yang sama, industri perbankan Indonesia terbukti bisa bertahan.

Begitu pula pada saat terjadinya gejolak harga komoditas pada beberapa tahun terakhir yang sangat mempengaruhi perekonomian Indonesia, perbankan nasional masih bertahan.

Belum lagi, ujar Sri Mulyani, dalam 20 tahun terakhir, industri perbankan nasional juga dihadapkan dengan gejolak suku bunga. Sempat terjadi era di mana suku bunga begitu tinggi, lalu turun hampir mendekati nol, dan kini kembali merambat naik kembali. Ia yakin perbankan Indonesia mampu menghadapi perubahan yang cukup signifikan.

"Lingkungan terus berubah, perbankan Indonesia harus bisa adjust dan berkembang. Itu modal yang bagus dan menjadi pondasi untuk terus maju dan akan dinamis," kata Sri Mulyani.

Ke depannya, Sri Mulyani melihat masuknya perubahan akibat teknologi bisa berdampak positif maupun negatif terhadap industri. Ia berharap para pelaku industri bisa melihat masuknya teknologi sebagai peluang positif ketimbang negatif. "Kita harus menyambut teknologi dengan sikap yang positif, daripada khawatir."

Justru, perubahan teknologi, menurut Sri Mulyani seperti dilansir laman Tempo, harus bisa menjadi solusi atau opsi untuk mengakselerasi pembangunan di Indonesia. Untuk itu, pemerintah juga, menurut dia, terus melaksanakan tugasnya dalam membuat kebijakan menghadapi era digital ini.

Saat ini, ekonomi digital yang mestinya mendorong inklusi keuangan di Indonesia, masih belum bisa dinikmati masyarakat yang tidak memiliki akses ke dunia digital, misalnya daerah yang belum ada akses internet.

"Financial inclusion kita meski sudah naik dari 36 persen ke 48 persen menurut Bank Dunia, itu masih tertinggal seperti India, walau sudah di jalur yang benar," ujar Sri Mulyani. "Masih ada 50 persen masyarakat yang excluded, padahal kita punya unicorn global."

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Bank-bank Nasional Kartika Wirjoatmodjo mengatakan transformasi digital kini telah terjadi, tak terkecuali di sektor perbankan. Transformasi itu kini terus mengubah wajah perbankan.

Seiring dengan revolusi industri 4.0 yang menelurkan para pelaku usaha baru di sektor keuangan, Kartika mengatakan perbankan mesti bisa lebih efisien, cepat, transparan, dan customer-centric. "Batasan antara kompetisi dan kolaborasi akan berbeda dengan sebelumnya, yang saat ini kita sering dengar dengan istilah co-opetition," ujar Kartika. 0 NIZ