Jumat, 16 November 2018

Kerinduan Kombes Bonar Sitinjak ke Kota Kisaran

Ist.
Beritabatavia.com - Sukses mengukir sederet prestasi hingga menyandang pangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) tak membuatnya lupa kampung halaman. Justru ingin mengabdi untuk masyarakat dan kota Kisaran, Sumatera Utara (Sumut) yang sudah lama ditinggalkannya demi melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai anggota Polri. 

Begitulah suasana hati yang dirasakan pria asal kota Kisaran, Asahan (Sumut) Kombes Pol Bonar Sitinjak,SH,MH. Melalui telegram Kapolri Nomor 2595/X/Kep tertanggal 14 Oktober 2018 resmi menjabat sebagai Kabagrenmin Divisi Hukum Polri di Jakarta.

Anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Aiptu Pol I Sitinjak dan B br Manurung (keduanya almarhum) lahir di Sumbul 4 Oktober 1962 silam. Bonar Sitinjak sejak kecil hingga menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas (SMA) di Kisaran.

Lulus AKPOL 1989, Bonar Sitinjak langsung bertugas di Pamapta Polres Nias Polda Sumatera Utara. Setahun kemudian pindah ke Pamapta Poltabes Medan. Hingga  pada 1993 diangkat menjadi Kanit Resmob/Tekab Satserse Poltabes Medan. Saat itulah tim yang dipimpin Bonar Sitinjak berhasil mengungkap kasus pembunuhan mahasiswi universitas swasta ternama yang menggemparkan masyarakat kota  Medan. Disusul dengan pengungkapan kasus Suryadi alias Mayor Cs yang sempat buron selama 10 tahun. Hingga kemudian Bonar Sitinjak dipercaya menjabat Kasat serse Polres TapanuliTengah (Tapteng).

Pasca menjalani pendidikan Selapa Polri di Jakarta, Bonar Sitinjak langsung bertugas sebagai Kasubbag Anev Bag SerseTik Dit Serse Polda Lampung. Lalu saat menjabat Kabag Sat Narkoba Dit Serse Polda Lampung, tim yang dipimpin Bonar Sitinjak berhasil membongkar jaringan peredaran narkoba jenis ganja seberat 23 ton. Atas sukses yang diraihnya, Bonar Sitinjak dipercaya menjabat Waka Polres Tulang Bawang Polda Lampung.

Selanjutnya dinyatakan lulus untuk menjalani pendidikan Sespim Polri di Bandung, Jawa Barat. Usai menjalani pendidikan Sespim Polri pada 2006. Bonar Sitinjak yang memiliki keahlian dibidang reserse, dipercaya sebagai Kapolres Teluk Bintuni Polda Papua. Dua tahun kemudian menjabat sebagai Kapolres  Supiori Polda Papua. Lalu pada 2010 pimpinan Polri mengembalikan perwira Polri yang sarat dengan pengalaman dibidang reserse ini ke habitatnya untuk menjabat sebagai Wadir Reskrimum Polda Bali. Di  pulau dewata, Bonar mendapat promosi kenaikan pangkat menjadi Kombes sekaligus jabatan baru  sebagai Direktur Reskrium Polda Papua Barat.  Setelah tiga tahun menjabat Direktur Reskrimum Polda Papua Barat. Akhirnya pada awal Nopember 2018, Kombes Bonar Sitinjak mendapat promosi jabatan sebagai Kabagrenmin Devisi Hukum Mabes Polri.

Ditengah aktivitas sebagai anggota Polri Bonar Sitinjak juga mendapat kesempatan untuk menjalani pendidikan kejuruan seperti  Jur lan Pa Serse 1991, Jur Patur Serse 1994, International Clendestine Laboratory Investigation 2006, ICITAP 2007, Senior Manager Investigation I (SMIP-I) JC-Lec AKPOL Semarang 2012. Tidak hanya itu, Bonar Sitinjak juga sukses meraih gelar sarjana hukum (S1) dari Universitas Lampung (Unila) pada 2004. Serta menggondol gelar master (S2) hukum dari Universitas Makasar (Unhas) pada 2012.

Sebagai insan Bhayangkara berprestasi, Kombes Bonar Sitinjak dianugrahi sejumlah tanda jasa, Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun, Satya Lencana Kesetiaan 16 tahun, Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun, Satya Lencana Swija Sistha, Satya Lencana Darma Nusa, Bintang Bhayangkara Nararya.

Kombes Bonar Sitinjak mengaku langkah awal perjalanan hidup maupun karir serta pengalaman diberbagai wilayah NKRI bermula dari kota Kisaran. Sebagai anak dari keluarga yang sangat sederhana, Bonar Sitinjak semasa kecil merasakan kegetiran dan kepahitan hidup di Kisaran. Bahkan kesulitan yang pernah dialaminya berlangsung sejak bersekolah di SDN 5 Kisaran hingga lulus pada tahun 1974. Kondisi prihatin terus bergulir hingga menjalani pendidikan di SMPN 1 Kisaran sampai lulus pada 1977. Badai pasti berakhir, begitu juga  ekonomi keluarga Bonar Sitinjak mulai mengalami sedikit perubahan, setelah ibunya ikut berjuang memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan berdagang.  Hingga Bonar Sitinjak remaja bisa menghela nafas panjang dan akhirya menyelesaikan pendidikan SMA.

Bonar Sitinjak juga mengisahkan proses perjalanan berliku untuk menjadi Taruna AKPOL di Semarang. Setelah mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.  Lalu dengan modal izasah SMA yang diraihnya tahun 1981, Bonar mencoba mengikuti test AKABRI pada tahun 1982 dan lulus untuk wilayah Sumut. Namun saat menjalani test akhir atau Pantuhir dari tingkat Pusat, Bonar dinyatakan tidak lulus. Peristiwa serupa juga terjadi saat mengikuti test kedua kalinya pada 1983.
 
Kegagalan hanyalah waktu yang tertunda, itulah prinsip Bonar saat itu. Keinginan untuk menjadi taruna AKPOL tak pernah sirna. Bonar Sitinjak tak ingin terus dirundung kesedihan karena gagal menjadi Taruna AKPOL.

Akhirnya Bonar memutuskan merantau ke Palembang, Sumatra Selatan. Seperti arus sungai Musi yang terus mengalir, Bonar melamar masuk secaba Polri di Palembang tahun 1984. Jalan mulai terbuka, Bonar dinyatakan lulus kemudian menjalani pendidikan di diklat  Betung, Polda Sumbagsel dan  lulus tahun 1985.

Setelah bertugas satu setengah tahun di Polsek Prabumulih Polres Muara Enim. Keinginan untuk mewujudkan mimpi menjadi taruna AKPOL tak pernah sirna. Bonar Sitinjak  dengan segala konsekuensi, memutuskan untuk mendaftar AKPOL pada 1986 dan dinyatakan lulus. Hingga kemudian dia dilantik sebagai perwira Polri dengan pangkat Letnan dua pada tahun 1989.

“ Terima kasih Tuhan, keinginan dan harapan yang saya sampaikan lewat Doa dikabulkan,” kata Bonar Sitinjak mengenang peristiwa haru yang dirasakannya saat itu. Meskipun, setahun setelah menyandang pangkat Ipda, Bonar Sitinjak harus rela untuk menghantarkan kepergian Ayahhandanya untuk selamanya.

Bonar Sitinjak mengakui, selama menjalani proses panjang dan berliku, dirinya tak pernah lupa kota Kisaran. “Langkah awal hingga sekarang bermula dari kota Kisaran. Awal semua yang saya peroleh berasal dari kota Kisaran. Saya sangat merindukan kehidupan masyarakat seperti di kota Kisaran,” kata Kombes Bonar Sitinjak.

Menjelang memasuki masa akhir dinas di Polri yang tinggal dua tahun lagi. Keinginan Bonar Sitinjak untuk mengabdi bagi masyarakat dan kota Kisaran, semakin kuat. Apalagi Bonar Sitinjak mengakui keinginan itu mendapat respon dari sejumlah tokoh dan sebagian besar masyarakat kota Kisaran atau Kabupaten Asahan.

Namun, Bonar Sitinjak belum memutuskan untuk ikut berkompetisi pada Pilkada Kabupaten Asahan pada priode selanjutnya. “ Memang posisi Bupati atau Gubernur lebih efektif untuk mewujudkan pembangunan daerah seperti Kabupaten Asahan. Tetapi bukan menjadi kendala, meskipun tidak jadi Bupati atau Gubernur. Sebab mengimplementasikan gagasan atau ide juga merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” ujar Kombes Bonar Sitinjak. Semoga ! O Edison Siahaan


Berita Terpopuler