Selasa, 20 November 2018

Tanah Ambles, Rumah Warga Pademangan Miring

Ist.
Beritabatavia.com - Tiga rumah semi-permanen milik warga miring hampir roboh akibat tanah yang ambles di Bantaran Kali Anak Ciliwung, RT 001 RW 08, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara. Sekitar enam kepala keluarga yang harus mengungsi akibat kejadian itu.

Camat Pademangan Mumu Mujtahid menyebutkan, amblesnya tanah sudah dimulai sejak Sabtu (17/11/2018). Namun, rumah warga miring dan hampir roboh sehari setelahnya. Ia menyebut, kejadian itu sudah muncul dalam beberapa pekan terakhir.

"Sabtu itu sudah terasa ada retakan, amblesnya Minggu pagi. Ini rangkaian sebenarnya karena tanah di situ kan memang labil, kanan-kiri itu sudah pernah retak," kata Mumu.

Mumu mengatakan, pada akhir Oktober ada bagian bantaran yang longsor tak jauh dari lokasi tanah yang ambles.  Saat itu, petugas Dinas Sumber Daya Air langsung membangun turap untuk memperbaiki bagian bantaran yang longsor. Tak lama kemudian, longsor kembali terjadi mrobohkan pohon besar yang berada di tepian sungai.

Kejadian amblesnya tanah yang menyebabkan rumah warga miring sejak Sabtu lalu seolah menjadi puncak dari kejadian-kejadian sebelumnya.
Tercatat  ada empat kejadian tanah ambles dan longsor di area tersebut sejak hujan Oktober lalu.

Rumah warga itu tampak miring kira-kira 15 derajat. Hanya ada beberapa tiang kayu yang menopang beban dari rumah-rumah dua lantai tersebut. Beruntung, warga sempat menyelamatkan diri dan mengungsi sebelum rumah-rumah tersebut miring sehingga tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian itu.

Sementara itu, pengerjaan turap oleh Dinas Sumber Daya Air tampak masih dilanjutkan. Sebuah alat berat berjenis backhoe dan belasan pekerja terlihat masih bertugas pada Senin siang.

Kejadian ini menjadi evaluasi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengerjakan mengeruk sungai dan kali di Jakarta. Pondasi dinding turap di sungai-sungai di Jakarta tidak cukup dalam.

"Konsekuensinya, ketika mengeruk hanya bisa dilakukan di bagian tengah. Begitu mengeruknya agak ke pinggir, potensi longsor menjadi tinggi. Di sisi lain, ketika dilakukan pengerukan hanya di tengah, efektivitasnya menurun," lontarnya.

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Utara Santo mengatakan, tanah amblas itu terjadi karena pengerukan kali yang terlalu pinggir. Kondisi tanah di sana memang sudah labil sehingga rawan amblas. Hingga Senin sore, sejumlah warga masih bertahan di tenda pengungsian.

Ia pun belum bisa memastikan hingga kapan warga tinggal di pengungsian karena kondisi rumah yang miring membahayakan mereka. "Kalau rumah, saya mesti ngobrol lagi di tingkat kota, apakah bisa bantu perbaiki rumah mereka atau bagaimana saya belum dapat keputusan," sambungnya. 0 KMP