Beritabatavia.com -
Pilkada Gubernur DKI baru akan digelar pada pertengahan i 2012 mendatang. Namun eskalasi politik di ibukota sudah mulai memanas.
Disusul dengan surat pengunduran diri wakil Gubernur Prijanto dari jabatannya. Sikap dan tindakan Prijanto sontak menuai pro kontra dari berbagai kalangan. Sebagian menuding Prijanto tidak kesatria, karena meninggalkan tanggungjawab, sebelum waktunya.
Sementara ada pihak yang mendukung pengunduran diri Prijanto. Bahkan disebut tindakan tersebut sudah menyangkut harga diri yang harus dipertahankan.
Peristiwa mundurnya Wakil Gubernur DKI, seharusnya menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Hendaknya, kedepan proses pencalonan pasangan harus dilakukan sejak dini. Agar proses penyatuan visi dan misi berlangsung baik. Sehingga tidak seperti menyatukan air dengan minyak.Kita tahu, ongkos untuk proses Pilkada sangat mahal. Jika pasangan terpilih tidak berkerja secara maksimal, atau hanya berkutat pada urusan pribadi dengan alasan perbedaan prinsip. Maka, kita semua akan dirugikan, karena pelayanan masyarakat akan terganggu.Sudah waktunya Partai politik (Parpol) melakukan inovasi baru dalam proses pemilihan pasangan calon yang akan dimajukan pada Pilkada.Demikian juga warga masyarakat, hendaknya tidak memilih sosok calon yang hanya berdasarkan popularitas semata. Tetapi, harus juga melihat berdasarkan kemampuan dan sikap serta prilaku calon sebelumnya.Sebab, kita sudah banyak mendapat pelajaran dari calon-calon yang hanya terlihat mampu saat pidato dengan jargon politik yang disampaikan saat kampanye.Namun, setelah menjabat tidak mampu memberikan kesejahteraan pada masyarakatnya. Bahkan, justru menunjukkan prilaku dan sikap serta tindakan yang tidak berorientasi kepentingan masyarakat banyak.
Masyarakat, harus cerdas,cermat dan teliti saat akan memilih pemimpin. Jika salah, maka dampaknya akan dirasakan hingga lima tahun ke depan. 0 edison siahaan