Jumat, 20 Januari 2012 17:47:23

Vihara Dharma Jaya Kusam dan Muram

Vihara Dharma Jaya Kusam dan Muram

Beritabatavia.com - Berita tentang Vihara Dharma Jaya Kusam dan Muram

Het Kong Sie Huis Tek atau sekarang dinamai Vihara Dharma Jaya atau Sin Tek Bio adalah rumah peribadatan yang tersembunyi, tenggelam di antara ...

Vihara Dharma Jaya Kusam dan Muram Ist.
Beritabatavia.com - Het Kong Sie Huis Tek atau sekarang dinamai Vihara Dharma Jaya atau Sin Tek Bio adalah rumah peribadatan yang tersembunyi, tenggelam di antara toko-toko tua, rumah makan khas Tionghoa, berhimpitan dengan rumah-rumah kumuh yang terletak di gang Belakang Kongsi samping Bakmi Gang Kelinci.

Gang itu begitu sempit dan kumuh di Jalan Pasar Baru Dalam, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Gang itu hanya cukup untuk dilalui oleh dua orang, dan itu pun mesti bersenggolan. Di belokan  gang menuju vihara ini, Anda akan melihat tulisan pada satu tembok bertuliskan Yayasan Wihara Dharma Jaya, Sin Tek Bio, Anno 1698 Batavia.

Memasuki area kelenteng berwarna dominan merah itu, Anda akan membaui semerbak hio yang merasuki seluruh rongga hidung.

Di kanan dan kiri pintu utama kelenteng Anda akan disambut dua ekor patung singa penjaga yang disebut Bao-gu-shi.

Kelenteng ini tidak besar, namun keagungannya tetap terlihat dari atas bangunan kelenteng yang idhuni dua ekor patung naga dengan mutiara di antaranya.

Dalam ruang utama ada tiang-tiang pancang yang dililit dua ekor naga, sementara di dalam kelenteng ada ribuan lilin disangkari gelas-gelas kaca dengan stempel berwarna merah bertuliskan kaligrafi Cina berwarna emas.

Ratusan patung dewa dewi diletakkan di 14 altar yang memenuhi ruang utama, sedangkan patung Hok-tek Ceng-sin diletakkan di altar utama sebagai dewa utama yang disembah di kelenteng ini.

Patung itu sudah ada sejak kelenteng ini didirikan, bahkan usianya lebih tua dari kelenteng. Patung itu didatangkan langsung dari Tiongkok, sebelum kelenteng itu berdiri.

Sin Tek Bio yang memiliki dewa utama Hok-tek Ceng-sin sepertinya memang cocok berada di tengah Pasar Baru, karena Hok-tek Ceng-Sin adalah dewa Bumi dan rejeki atau dewa para petani dan pedagang.

Vihara ini diyakini berdiri pada abad ke-17, tepatnya 1698 yang saat itu adalah Tahun Macan.  Tahun itu didapat dari data perabotan keleteng yang tercatat dari daftar penyumbang pembangunan kelenteng.

Akan tetapi pada 1820, seiring berdirinya Passer Baroe, kelenteng ini baru didaftarkan dengan nama Sin Tek Bio, yang berarti Kelenteng Pasar Baru.

Kapan kelenteng ini didirikan, mungkin sudah bukan masalah lagi. Yang jadi persoalani bangunan bersejarah itu mesti dilindungi. Sayang, kenyataan berkata lain.

Saya sudah pernah meminta bantuan ke Dinas Tata Kota, tapi tidak pernah ada tanggapan. Mereka kurang perhatian kepada keadaan kami, kata Ketua Yayasan Wihara Dharma Jaya, Santoso Witoyo.

Santoso yang sejak 1981 mengurusi yayasan ini tampak pasrah dengan keadaan kelenteng yang kian hari kian tidak dianggap pemerintah. Padahal ini adalah salah satu jejak sejarah Jakarta, sekaligus objek wisata.

Tak hanya Sin Tek Bio, kelenteng Kwan Im Bio yang tepat berada di sebelahnya bernasib sama.  Kwan Im Bio bahkan jauh lebih sulit ditemukan. Keduanya adalah kelenteng-kelenteng tertua di Ibukota.

Meski dinyatakan sebagai salah satu dari sembilan kelenteng utama di Jakarta, Sin Tek Bio sama sekali tak seperti kelenteng utama. Apalagi jika melihat jalan ke kelenteng ini yang begitu kumuh, sempit, becek.

Tak hanya jalanan ke kelenteng, papan nama kelenteng pun sulit ditemukan karena tertutup terpal para pedagang.  O brn/ant
Berita Lainnya
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Minggu, 10 Mei 2026
Sabtu, 09 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Kamis, 07 Mei 2026
Selasa, 05 Mei 2026