Beritabatavia.com -
Era reformasi saat ini bukan terjadi dengan seketika dan sukacita. Tetapi diwarnai dengan pertumpahan darah, bahkan menelan korban jiwa sebagai tumbal anak bangsa.
Reformasi yang diawali dengan krisis 1998, membuat kondisi negeri ini menjadi tak menentu. Jakarta sebagai barometer jadi arena konflik terbesar di negeri ini. Jakarta tidak lagi hanya sebagai pusat pemerintahan, politik dan ekonomi, tetapi berubah menjadi pusat demonstrasi mahasiswa. Maka tidak heran, jika Kapolda Metro Jaya dan jajarannya sebagai penanggung jawab keamanan Ibukota saat itu harus bekerja ekstra.
Suasana kian runyam, karena banyaknya kelompok yang ikut bermain demi kepentingan kelompoknya. Kondisi carut marut itu menjadi tanggungjawab Kapolda Metro Jaya. Meskipun, pengamanan melibatkan TNI, karena sistem ketika itu memungkinkan, sebab kepolisian masih berada dibawah ABRI yang dikenal dengan sebutan TNI/Polri.
Dalam kondisi sulit itu, Komisaris Jenderal (Komjen-Pur) Noegroho Djajoesman (saat itu berpangkat Inspektur Jenderal) diberi kepercayaan memimpin Polda Metro Jaya. Tentu dengan pertimbangan pimpinan Polri, bahwa Noegroho Djajoesman mampu menghadapi dan mengatasi permasalahan yang super hebat melanda Jakarta.
Menciptakan rasa aman di Jakarta saat itu bukan hal mudah. Aksi demo mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, eskalasi politik memuncak. Kepercayaan diri Polisi ditendang hingga jatuh ketitik terendah. Membuat Polisi takut hanya untuk mengenakan seragam. Beban Polisi kian berat, karena ketiban pulung harus bertanggung jawab atas meninggalnya mahasiswa yang menjadi tumbal reformasi. Membuat beberapa aparat kepolisian dihadapkan ke meja hijau dan dikenai sanksi.
Sebagai prajurit Bhayangkara, Noegroho Djajoesman melaksanakan tugas dan tanggung jawab terhadap negara. Perlahan, kondisi keamanan dan ketertiban di ibukota Jakarta berangsur pulih, hanya dengan waktu yang relatif singkat.
Peran Komjen (Purn) Noegroho Djajoesman sebagai Kapolda Metro Jaya, sangat menentukan. Sehingga tak bisa dipungkiri, era reformasi saat ini menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Noegroho salah satu putra terbaik bangsa, yang ikut mengawal sekaligus mencatatkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia, menuju era reformasi.
Namun, pria kelahiran Purwokerto 8 April 1947 ini merasa belum berbuat yang terbaik untuk negara dan bangsa. Meskipun masyarakat mengakui, kepiawaian Noegroho Djajoesman saat menjabat Kapolda Metro Jaya menjadi contoh bagi para perwira Polri. Noegroho sangat mengenal karakter masyarakat dan situasi wilayah Jakarta.Karena itulah, lulusan AKPOL 1970 ini dikenal dan dekat dengan masyarakat ibukota.
Kini, Noegroho Djajoesman hidup bahagia, damai bersama istri tercinta Taty Rachmiaty dan tiga putra putri serta cucu-cucunya. Pensiun dari tugas kepolisian, tak membuat Noegroho berhenti mengabdi untuk bangsa dan negara. Noegroho mengendalikan sejumlah organisasi masyarakat yang juga diprakarsainya.
Masa sulit saat memimpin Polda Metro Jaya merupakan kenangan indah dan tak mungkin dilupakan, katanya kepada NOVUM. Menurutnya, memelihara stabilitas khususnya Jakarta, peran pemimpin sangat menentukan. Masyarakat harus tahu, kemampuan seorang pemimpin ditentukan saat berada dalam kondisi paling genting. Seorang pemimpin harus sosok yang tegas dan berani mengambil keputusan apapun resikonya.
Cintanya terhadap korps kepolisian tak dapat ditawar. Menurutnya, konsep menjadi polisi profesional, sangat sederhana. Diawali dengan pemahaman fungsinya sebagai aparat negara yang bertugas memelihara serta menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. Kemudian penegakan hukum dan melindungi, mengayomi serta melayani masyarakat. Jika polisi melaksanakan fungsinya dengan sepenuh hati, maka rakyat akan mencintai dan menghargai polisi.
Agar dekat dengan rakyat, polisi harus menjadi polisinya rakyat. Seperti ungkapan sebuah filosofi ‘polisi itu ada dimana-mana, tapi tidak kemana-mana’. Penerima penghargaan Bintang Maha Putra Utama (saat masih berpangkat Irjen) ini mengatakan, keberhasilan polisi bukan diukur dari laporan naik turunnya angka kejahatan. Tetapi, apakah polisi itu dikenal rakyat atau tidak. 0 edison siahaan