Senin, 14 Mei 2012 14:08:08

Jenderal 'Gaul' Dimasa Sulit

Jenderal 'Gaul' Dimasa Sulit

Beritabatavia.com - Berita tentang Jenderal 'Gaul' Dimasa Sulit

Era reformasi saat ini bukan terjadi dengan seketika dan  sukacita. Tetapi diwarnai dengan pertumpahan darah, bahkan menelan korban jiwa sebagai ...

Jenderal 'Gaul' Dimasa Sulit Ist.
Beritabatavia.com - Era reformasi saat ini bukan terjadi dengan seketika dan  sukacita. Tetapi diwarnai dengan pertumpahan darah, bahkan menelan korban jiwa sebagai tumbal anak  bangsa.
Reformasi yang diawali dengan krisis 1998, membuat kondisi negeri ini menjadi tak menentu. Jakarta sebagai barometer jadi arena konflik  terbesar di negeri ini. Jakarta tidak lagi hanya sebagai pusat   pemerintahan, politik dan ekonomi, tetapi berubah menjadi pusat demonstrasi mahasiswa. Maka tidak heran, jika Kapolda Metro Jaya dan jajarannya sebagai penanggung jawab keamanan Ibukota saat itu harus bekerja ekstra.

Suasana kian runyam, karena banyaknya kelompok yang ikut bermain demi kepentingan kelompoknya. Kondisi carut marut itu menjadi tanggungjawab Kapolda Metro Jaya. Meskipun, pengamanan melibatkan TNI, karena sistem ketika itu memungkinkan, sebab  kepolisian masih berada dibawah ABRI yang dikenal dengan sebutan TNI/Polri.
 
Dalam kondisi sulit itu, Komisaris Jenderal (Komjen-Pur) Noegroho Djajoesman (saat itu  berpangkat Inspektur Jenderal) diberi kepercayaan memimpin Polda Metro Jaya. Tentu dengan pertimbangan pimpinan Polri, bahwa Noegroho Djajoesman mampu menghadapi dan mengatasi permasalahan yang super  hebat melanda Jakarta.
 
Menciptakan rasa aman di Jakarta saat itu bukan hal mudah. Aksi demo mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, eskalasi politik memuncak. Kepercayaan diri Polisi ditendang  hingga jatuh ketitik terendah. Membuat Polisi takut  hanya untuk mengenakan seragam. Beban Polisi kian berat, karena ketiban pulung harus   bertanggung jawab atas meninggalnya mahasiswa yang menjadi tumbal reformasi.  Membuat  beberapa aparat kepolisian dihadapkan ke meja hijau dan dikenai sanksi.

Sebagai prajurit Bhayangkara, Noegroho Djajoesman melaksanakan tugas dan tanggung jawab terhadap negara. Perlahan, kondisi keamanan dan   ketertiban di ibukota Jakarta berangsur pulih, hanya dengan waktu yang relatif singkat.

Peran Komjen (Purn) Noegroho Djajoesman  sebagai Kapolda Metro Jaya, sangat menentukan. Sehingga tak bisa dipungkiri, era reformasi saat ini menjadi bagian dari perjalanan kariernya. Noegroho salah satu putra terbaik bangsa, yang ikut mengawal sekaligus mencatatkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia, menuju era reformasi.

Namun, pria kelahiran Purwokerto 8 April 1947 ini merasa belum berbuat yang terbaik untuk negara dan bangsa. Meskipun masyarakat mengakui,  kepiawaian  Noegroho Djajoesman saat menjabat Kapolda Metro Jaya  menjadi contoh bagi para perwira Polri. Noegroho sangat mengenal   karakter masyarakat dan situasi wilayah Jakarta.Karena itulah,  lulusan AKPOL 1970 ini dikenal dan dekat dengan  masyarakat ibukota.

Kini, Noegroho Djajoesman hidup bahagia, damai bersama istri tercinta Taty Rachmiaty dan tiga putra putri serta cucu-cucunya. Pensiun dari tugas kepolisian, tak membuat Noegroho  berhenti mengabdi untuk bangsa dan negara. Noegroho mengendalikan sejumlah organisasi masyarakat yang juga  diprakarsainya.

Masa sulit saat memimpin Polda Metro Jaya merupakan kenangan indah dan tak mungkin dilupakan, katanya kepada NOVUM. Menurutnya, memelihara stabilitas khususnya Jakarta, peran pemimpin sangat menentukan. Masyarakat harus tahu, kemampuan seorang pemimpin ditentukan saat berada dalam kondisi paling genting. Seorang pemimpin harus sosok yang tegas dan berani mengambil keputusan apapun resikonya.

Cintanya terhadap korps kepolisian tak dapat ditawar. Menurutnya, konsep menjadi polisi profesional, sangat sederhana. Diawali dengan pemahaman fungsinya sebagai aparat negara yang bertugas memelihara serta menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. Kemudian penegakan hukum dan melindungi, mengayomi serta  melayani masyarakat. Jika polisi melaksanakan fungsinya dengan sepenuh hati, maka rakyat akan mencintai dan menghargai polisi.

Agar dekat dengan rakyat, polisi harus menjadi polisinya rakyat. Seperti ungkapan sebuah filosofi ‘polisi itu ada dimana-mana, tapi tidak kemana-mana’. Penerima penghargaan Bintang Maha Putra Utama (saat masih berpangkat Irjen) ini mengatakan, keberhasilan polisi bukan diukur dari laporan naik turunnya angka kejahatan. Tetapi, apakah polisi itu dikenal rakyat atau tidak. 0 edison siahaan
Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Senin, 26 Februari 2024
Kamis, 01 Februari 2024
Senin, 13 November 2023
Rabu, 12 April 2023
Senin, 03 April 2023
Selasa, 07 Maret 2023
Rabu, 15 Februari 2023
Senin, 06 Februari 2023
Kamis, 01 Desember 2022
Selasa, 21 Juni 2022
Rabu, 04 Mei 2022
Jumat, 29 April 2022