Beritabatavia.com -
Warga pengguna layanan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek menolak rencana kenaikan harga tiket. Pasalnya, sampai sekarang fasilitas dan layanan KRL masih sangat memprihatinkan.
Tingkatkan dulu pelayanan, baru bicara kenaikan tarif KRL, kata Nurcahyo, pengelola situs krlmania.com, Jumat (18/6). Menurut dia, fasilitas dan layanan kereta yang sampai sekarang masih memprihatikan, khususnya untuk kelas ekonomi non AC. Gerbong KRL sering hanya dibuat 4 gerbong sehingga penumpang berjubel, bahkan tidak jarang jadwal perjalanan kereta dibatalkan.
Menurut pelanggan KRL lainnya, Ito, harusnya PT Kereta Api menambah jumlah kereta, bukan justru menaikkan tarif. Sebab, penghasilan para pelanggan KRL kelas ekonomi rata-rata rendah,sehingga mereka butuh angkutan kereta yang murah.
Ito yang sehari-harinya menggunakan KRL Ekonomi ini, juga merasa tidak ada survei yang dilakukan kepada penumpang KRL tentang adanya kenaikan tarif ini.
Saya sudah bertanya ke teman-teman, tapi katanya tidak pernah disurvei. Jangan-jangan survei hanya dilakukan siang hari ketika penumpang tidak banyak. Alasan tiket dinaikkan karena tarif listrik mau naik, ya gak bisa dijadikan alasan. Pelayanannya masih amburadul kok, contohnya banyak warga yang tak terangkut KRL, akhirnya pada nongkrong diatap kereta , katanya.
Usulan kenaikan tarif ini sebelumnya diungkapkan Sugeng Priyono, Manajer Humas PT KA Daop I. Khusus untuk KRL Jabodetabek, kenaikan yang diusulkan bervariasi, mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 3.000 atau berdasarkan kelasnya. Sementara untuk kereta jurusan jarak jauh, rencananya naik sampai 12 persen.
Usulan ini telah kami sampaikan ke Kementerian Perhubungan (Kemhub), kata Sugeng.
Dikatakan, usulan kenaikan harga tiket kereta telah diajukan ke pemerintah pusat sejak Maret 2010. Sekarang, pembahasan di tingkat pemerintah masih berlangsung.
Usulan ini merupakan dampak dari kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Apalagi, TDL untuk traksi (keperluan KRL) naik sebesar 9 persen, kata Corporate Secretary PT KAI Jakarta Comuter (KCJ) Makmur Syaheran. O brn