Jumat, 05 Oktober 2012 14:40:24

Rusak Lingkungan, Bupati Dharmasraya Tolak Sawit

Rusak Lingkungan, Bupati Dharmasraya Tolak Sawit

Beritabatavia.com - Berita tentang Rusak Lingkungan, Bupati Dharmasraya Tolak Sawit

Bupati Dharmasraya Adi Gunawan menolak tegas investasi sawit di daerahnya demi menjaga kelestarian sumber daya alam. Hamparan hutan yang mencapai 40 ...

 Rusak Lingkungan, Bupati Dharmasraya Tolak Sawit Ist.
Beritabatavia.com - Bupati Dharmasraya Adi Gunawan menolak tegas investasi sawit di daerahnya demi menjaga kelestarian sumber daya alam. Hamparan hutan yang mencapai 40 persen dari 3.000 kilometer persegi luas wilayah daerah tersebut hanya dibolehkan untuk perkebunan karet.

Dibanding sawit, karet jauh lebih familiar dengn alam, ujar  Adi di Dharmasraya, Sumatera Barat, Jumat (5/10).

Adi yang berlatar belakang ilmu pertanian menilai sawit menjadi salah satu biang kerusakan lingkungan di berbagai daerah. Tanaman sawit amat rakus menyerap air sehingga berisiko membuat tanaman di sekitarnya sulit tumbuh dan tidak produktif.

Di samping itu sumber air bersih bagi masyarakat sekitarnya dapat terganggu. Ia mencontohkan, sebagian daerah aliran Sungai Batanghari di daerah tetangga Dharmasraya kini sudah keruh karena longsoran lahan hutan di hulu yang sarat dengan tanaman kelapa sawit.

Tanaman sawit juga mengubah hutan menjadi monokultur dari sebelumnya beragam. Keseragaman tanaman di sebuah lahan membuat kehidupan satwa terdesak. Akhirnya satwa yang semula hidup berkecukupan di hutan, menjadi buas dan mengancam perkampungan masyarakat sekitar hutan, ujar Adi.

Terkait dengan perkebunan karet, Adi menilai komoditas tersebut lebih akrab dengan lingkungan dan masyarakat. Karet tidak menjurus pada monokultur karena tanaman lain masih dimungkinkan tumbuh. Humuas dari daun karet malah menyuburkan tanaman.

Selain itu,  akar karet tidak terlalu kuat menyedot air. Tak kalah pentingnya lagi, karet sudah akrab dengan masyarakat sejak puluhan tahun silam. Pola penanaman dan penyadapan sudah dikenal masyarakat, kata seperti dilansir kompas.com

Ia juga menegaskan, agar tanaman karet bisa bernilai ekonomis dan memberi dampak bagi masyarakat luas dipersyaratkan investor karet membangun pabrik pengolahan di daerahnya. Investor karet yang datang ke daerah itu dipersyaratkan mendirikan pabrik sarung tangan. Satu pabrik diasumsikan menampung sekitar 5.000 tenaga kerja. Harga karet pun relatif stabil yakni paling murah Rp 20.000 per kg. o lil
Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Sabtu, 18 Juli 2026
Selasa, 14 Juli 2026
Selasa, 14 Juli 2026
Jumat, 03 Juli 2026
Selasa, 30 Juni 2026
Jumat, 26 Juni 2026
Senin, 22 Juni 2026
Minggu, 21 Juni 2026
Sabtu, 20 Juni 2026
Kamis, 11 Juni 2026
Selasa, 19 Mei 2026
Minggu, 03 Mei 2026