Beritabatavia.com -
Pulau paling ujung negara kesatuan Republik Indonesia, Papua kembali dilanda gempa berkekuatan 5,0 Skala Richter, Minggu 4/7) sekitar pukul 16.06. Sekitar empat jam kemudian, gempa berkekuatan 5,2 skala richter mengguncang kawasan barat laut Ternate, Maluku Utara. Meskipun gempa cukup besar, namun kedua gempat tersebut dipastikan tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Gempa di Papua terjadi pada 0.56 LS 134.02 BT dengan kedalaman 11 km. Pusat gempa di wilayah 32 km Barat Laut Monokwari Irian Barat, 239 km Barat laut Biak- Papua, 304 km Timur Laut Sorong-Irian Barat, 324 km Timur Laut Fakfak-Irian Barat, 3084 km Timur Laut Jakarta-Indonesia.
Sebelumnya, Rabu (16/06), gempa berkekuatan 7,1 skala richter di Papua, menyebabkan 17 orang tewas. Bencana alam tersebut juga membuat 2.556 rumah warga rusak berat dam 866 lainnya rusak ringan.
Sementara gempa di kawasan barat laut Ternate, Maluku Utara, tepatnya pukul 20.56 terletak pada 1.35 Lintang Utara dan 127,56 Bujur Timur dengan kedalaman 93 kilometer.
Data peristiwa gempa tersebut disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial Andi Arief, Minggu (4/7). Data sementara yang kami terima, untuk gempa Papua yang pertama, korban tewas 17 orang. Masing-masing di Kecamatan Yapen Selatan, dua orang dan di Kecamatan Ankaesera 15 orang. kata Andi Arief.
Akibat peristiwa ini, sebanyak 2.556 bangunan rumah warga rusak berat dan 866 lainnya rusak sedang. Kondisi paska gempa memaksa sedikitnya 4.606 warga korban gempa mengungsi. Menurut Andi, gempa juga merusak instalasi air minum sepanjang 27 km. Sebanyak 33 rumah ibadah, dan puluhan sekolah rusak. Bahkan, tiga pelabuhan di kawasan tersebut juga ikut terkena dampak gempa. Penanganan dampak gempa masih bisa diatasi pemerintah daerah (Pemda) setempat. Namun demikian, Andi mengaku terus berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk memantau perkembangan di sana.
Sementara untuk Gempa Papua dan Ternate yang terjadi pada Minggu (04/06), korban harta, benda dan manusia, masih dalam proses pemantauan. Menurut Andi Arief, peristiwa gempa yang akhir-akhir ini terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, menjadi pelajaran penting. Pihaknya tidak akan berhenti mengingatkan kembali urgensi untuk dibentuknya segara Komite Nasional Gempa. Sebagian besar wilayah Indonesia rawan gempa, sehingga masalah gempa menjadi tanggung jawab kita semua, kata Andi Arief. Apalagi Andi Arief menambahkan, sampai kini belum ada teknologi yang bisa meramal kapan akan terjadi gempa. Namun berdasarkan data statistik yang kami kaji, kemungkinan terjadinya gempa bisa diprediksi. Statistik gempa menunjukkan kejadian gempa di Indonesia menunjukan pengulangan dalam waktu tertentu, kata Andi Arief. O PI/son