Beritabatavia.com -
Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Patrialis Akbar mengajak kalangan usahawan untuk berinvestasi mengembangkan kawasan pulau Nusakambangan.Jika ajakan itu terwujud, maka kelak Lapas Nusakambangan tidak lagi menakutkan karena di sana akan hadir berbagai kegiatan usaha.
Ajakan itu disampaikan Patrialis di ruang tunggu Bandara Ahmad Yani, Semarang sebelum terbang ke Jakarta, Kamis (8/4) malam seusai melakukan kunjungan maraton selama dua hari ke sejumlah Lapas di Nusakambangan, Lapas Cilacap, Lapas Temanggung, Lapas Semarang, Lapas Wanita Semarang, dan Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Tengah.
Menurut Patrialis, ajakannya itu untuk mendukung program pembinaan terhadap para narapidana (napi) yang sedang menjalani hukuman di sejumlah Lapas di pulau itu. Lahan seluas sekitar 12 ribu hektar di Pulau Nusakambangan, lanjut dia, kalau bisa dikelola secara maksimal akan sangat membantu program pembinaan napi di Nusakambangan, terutama terhadap napi yang sudah memasuki masa asimilasi atau penyesuaian dengan kehidupan sosial (hampir bebas).
Kalangan investor perlu diajak mengembangkan kawasan Nusakambangan dengan usaha-usaha produktif, apakah perkebunan atau pertanian, kata Patrialis didampingi Dirjen Pemasyarakatan Kemkumham Untung Sugiyono dan Kepala Biro Humas Setjen Kemkumham Martua Batubara.
Patrialis menambahkan, pihaknya mempunyai kesempatan untuk mengembangkan hamparan lahan di Pulau Nusakambangan yang kini hanya ditumbuhi pepohonan tidak produktif. Kenapa tidak kita tanami pohon pohon yang ada buahnya atau pohon produktif lainnya, ujarnya.
Untuk mewujudkan gagasan itu pihaknya akan meminta bantuan kepada Kementerian Pertanian untuk melakukan survei tentang kualitas tanah agar diketahui subur untuk dikelola untuk perkebunan atau tidak.Selain itu pihaknya juga akan bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan yang telah menjanjikan siap membantu untuk pengadaan pohonnya.
Memang mubazir lahan seluas itu tidak dikelola secara maksimal, katanya.
Di Pulau Nusakambangan kini terdapat tujuh unit Lapas, yaitu Lapas Narkotika, Lapas Pasir Putih, Lapas Batu, Lapas Besi, Lapas Permisan, Lapas Kembang Kuning, dan Lapas Terbuka. Para napi yang dibina di Lapas Terbuka lebih banyak memerlukan lahan garapan untuk mendidik ketrampilan mereka. Sebanyak 43 napi yang kini menghuni Lapas Terbuka menggeluti ketrampilannya dengan bercocok tanam, berkebun, perikanan, dan peternakan (penangkaran burung perkutut).
Patrialis Akbar juga menegaskan, ke depan pihaknya lebih banyak lagi membangun Lapas Terbuka karena metode pembinaan napi di lapas ini lebih mengedepankan persuasif dengan memberikan bakal pengetahuan dan ketrampilan. Saat ini baru ada enam Lapas Terbuka. Nanti paling tidak setiap provinsi memiliki satu Lapas Terbuka, katanya.
* ant/rud