Beritabatavia.com -
Gempa kembali melanda wilayah Indonesia. Kali ini, guncangan berkekuatan 5,2 Skala Richter melanda Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (20/07), pukul 21.31 WIB. Gempa yang berpusat pada kedalaman 15 km ini tidak berpotensi tsunami.
Menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi di lokasi 9,35 Lintas Selatan dan 119,03 Bujur Timur, dengan kedalaman 15 kilometer. Data rinci BMKG menyebutkan, pusat gempa tepatnya berada pada 102 km Tenggara Raba-NTB, 134 km Barat Daya Labuhanbajo-NTT, 140 km Barat Laut Waingapu-NTT, 180 km Barat Daya Ruteng-NTT, dan 1.400 km Tenggara Jakarta.
Sebelumnya, Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010 memperkirakan potensi terjadinya gempa meningkat dua kali lipat dari peta bahaya gempa 2002. Tim merilis laporan ini dalam Peta Bahaya Gempa Indonesia 2010 (Probabilitic Seismic Hazard Analysis Map).
Gempa 2010 luas potensinya semakin besar. Sekitar 2 kali lipatnya dibandingkan peta 2002, kata Ketua Tim, Masyhur Irsyam saat memaparkan peta gempa di Bina Graha, Kompleks Kepresidenan, Jakarta, 15 Juli 2010.
Masyhur menjelaskan, kenaikan 100 persen, terutama di dekat sumber gempa. Tepatnya, di sekitar patahan dan di sekitar sesar. Tim membandingkan tingkat guncangan di sejumlah kota pada 2002 dengan 2010. Di Aceh, tingkat guncangan meningkat dari 0,2 g (gravitasi) di 2002 menjadi 0,33 g pada tahun 2010. Di Padang, dari 0,25 g menjadi 0,32 g. Di Pulau Jawa, tingkat goyangan meningkat dari 0,15 g menjadi 0,2 g.
Meski begitu, Masyhur mengatakan ada juga yang tingkat goyangan menurun. Ahli gempa dari ITB itu mencontohkan, di Lampung, dari 0,25 g pada 2002 menjadi 0,2 g pada tahun 2010. Itu artinya, kewaspadaan harus ditingkatkan.
Sayangnya, pemantauan potensi gempa di Indonesia belum sepenuhnya tuntas. Masyhur menyebutkan, banyak sesar aktif atau pun patahan tua aktif yang belum dapat diidentifikasi di sekitar pulau Jawa dan Indonesia Timur. Itulah yang harus diantisipasi.
282 Kabupaten Rawan
Pemerintah mencatat sekitar 2/3 daerah atau sebanyak 282 kabupaten di Indonesia sangat rawan bencana. Untuk itu, mulai 2010 ini, pemerintah memberi prioritas utama terhadap daerah-daerah itu agar siap siaga dan mampu mengurangi korban saat gempa terjadi.
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Suprayoga Hadi mengatakan kesiapan itu harus ditunjukkan sejak dini. Terutama, menginstruksikan kepada daerah agar memberikan persiapan khusus dalam menghadapi bencana.
Yoga mengungkapkan, pihaknya sudah menyampaikan kepada daerah-daerah, agar memerhatikan peta rawan gempa. Ini penting agar bisa meminimalkan jatuhnya korban saat gempa benar-benar datang.
Kepada pers di Bappenas, Senin (19/07), Yoga mengatakan secara umum kawasan rawan bencana memang belum pernah diperhatikan. Semua pihak baru menyadari rawan bencana ini, mulai akhir 2004, setelah bencana gempa dan tsunami melanda Aceh dan sekitarnya.
Pemerintah memang tidak memasukkan kawasan rawan bencana ini secara spesifik dalam program tata ruang, tetapi pada lingkungan hidup dan pengelolaan bencana. Soalnya, memitigasi atau siap siaga menghadapi bencana lebih penting dibanding mengatasi bencana.
Yoga mengatakan perubahan paradigma penanganan bencana yang semua terfokus pada penanganan darurat, menjadi lebih berorientasi pada pencegahan dan pengurangan resiko bencana.
Persoalannya, secara umum pemerintah menghadapi kendala belum memadainya kinerja penanggulangan bencana. Ini berkaitan dengan keterbatasan kapasitas dalam penyeleggaraan penanggulangan bencana. Lainnya, masih rendahnya kesadaran terhadap risiko bencana.
Yang tak kalah penting, masih rendahnya pemahaman terhadap kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Ini meliputi rendahnya kesadaran terhadap upaya pengurangan risiko bencana, serta kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Ini semua harus diubah, agar tak jatuh korban sia-sia dalam setiap bencana. O mun/na/nor