Beritabatavia.com -
Penetapan Komisaris Jenderal (Komjen) Budi Gunawan sebagai pengganti Jenderal Sutarman meredam bursa pencalonan Kapolri yang sebelumnya sempat memanas di tubuh Polri. Pasalnya, nama sejumlah perwira tinggi (Pati) Polri seperti Komjen Bahroedin Haiti, Komjen Suhardi Alius, Irjen Pudji Hartanto,Irjen Syafruddin, dan Irjen Unggung Cahyono sebelumnya sempat mencuat sebagai kandidat pengganti Jenderal Sutarman.
Pasca penerbitan surat Presiden Jokowi tentang pengajuan nama Budi Gunawan untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and profer test) di DPR RI. Indonesia Police Watch (IPW) mencatat sedikitnya ada delapan alasan dibalik penunjukan Budi Gunawan sebagai pengganti Jenderal Sutarman menduduki jabatan Kapolri.
Ketua Presidium IPW, Neta Pane mengatakan, kedelapan alasan tersebut adalah :Pertama, percepatan penggantian Kapolri bukanlah hal baru. Kapolri Dai Bachtiar misalnya, diganti meski masa pensiunnya 4 bulan lagi. Kapolri TImur Pradopo diganti meski masa pensiunnya 3 bulan lagi. Sehingga percepatan penggantian Sutarman adalah wajar.
Kedua, Budi merupakan Komjen senior dari Akpol 1983, sementara Akpol 1981 sudah menjadi Kapolri dan Akpol 1982 menjadi Wakapolri yaitu Komjen Bahroedin Haiti. Sehingga sangat wajar Akpol 1983 memimpin Polri.
Ketiga, selama ini Budi banyak membuat visi misi sejumlah Kapolri, termasuk konsep-konsep perubahan Polri. Termasuk tim perumusan UU No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.
Untuk itu, sudah saatnya mantan ajudan Presiden Megawati itu menjalankan sendiri konsep-konsep yang pernah dibuatnya.
Keempat, Budi dikenal sebagai Pati yang mudah bergaul, baik di internal maupun eksternal Polri. Bahkan banyak Kapolri yang meminta bantuannya melobi legislatif maupun kalangan masyarakat lainnya.
Kelima, Budi tipe Pati Polri yang mau menerima masukan, terutama untuk perbaikan institusi. Keenam, Budi sangat dekat dengan Megawati dan Presiden Jokowi, sehingga dipastikan lebih bisa memahami konsep Revolusi Mental untuk membenahi Polri.
Ketujuh, lima tahun sebagai Kalemdikpol tentunya Budi sangat paham soal arah perbaikan Polri. Selama ini banyak Kapolri terlihat bingung menentukan arah perbaikan Polri dan harus dimulai dari mana. Akibatnya, perubahan sikap, perilaku, dan kinerja Polri hanya retorika di bibir.
Kedelapan, Budi bukanlah tipe jenderal pengkhianat, baik untuk institusi maupun untuk masyarakat. Terbukti, selama lima tahun dipendam di Kalemdikpol, Budi tetap berkarya untuk berusaha membenahi Polri lewat jalur pendidikan. Padahal, seharusnya dia sudah bergeser menjadi Wakapolri ataupun Irwasum.
Dengan kedelapan alasan ini, tidak ada lagi peluang bagi segelintir kalangan untuk menolak Budi Gunawan jadi Kapolri. Bahkan harusnya seluruh kalangan Polri solid untuk mendukungnya menjadi Kapolri pilihan Presiden Jokowi. O son