Beritabatavia.com -
Ayam dan burung yang setres, kebingungan melompat kesana kemari saat akan ditangkap dari dalam kandangnya. Itulah analogi dari klabrakan.
Klabrakanpun bisa terjadi di dalam birokrasi tatkala akan diwarasakan. Tatkala ada yang mengingatkan untuk memperbaiki belang-belang dan bopeng-bopengnya, ia dianggap ancaman. Awas hati-hati dan jangan mendekat kamu akan ketularan waras. Yang nulari itu yang sakit bukan yang waras. Yang waras terus disakiti supaya menjadi gila.
Tatkala ada yang membuka topengnya dan memblow up koreng dan bopeng-bopengnya barulah seolah olah kagum dan berteriak wow kami baru tahu.
Permainan watak memerankan berbagai kepura puraan memang jagonya. Namun ketika bopeng itu tergolong KKN barulah terkejut dan mulailah drama klabrakan babak pertama.
Babak pertama memang diingatkan ditunjukkan data-datanya. Ini saudara korengan dan bopeng belum diobati. Ini karena virus dan menular. Tapi masih slow kami pasti berobat dan mengobati. Janji mengobati bukan dengan komat kamit melainkan dengan komitmen dan membangun sistem.
Kok bisa-bisanya tenang tanpa ada rasa khawatir sedikitpun. Mungkin menunggu babak berikutnya untuk menunjukkan kebusukkan-kebusukan dan bangkai-bangkainya yang ada dalam birokrasi.
Babak ke dua hasil survey, riset, wawancara dan sebagainya mulai dikeluarkan dan inipun dianggap mengkilik kilik saja. Ditaburi rupiah beres selesai itu, pikir mereka yang sudah kecanduan kenyamanan.
Tatkala babak-babak selanjutnya belum juga menyelesaikan dan segera dibangun sistem untuk memperbaiki maka bopeng-bopeng dan koreng-koreng semakin menganga. Tatkala sudah menganga dan dijadikan issu di media, maka opini publik akan terbentuk.
Bola salju sudah menggelinding liar tiada lagi yang mampu mengingatkan. Peringatannya hanya satu kalimat awas jadi tersangka. Kalau itupun sudah tidak dirasa lagi, memang betul-betul gila birokrasi ini, akan terus klabrakan sampai mati dengan sendirinya.O Kombes DR CdL