Kamis, 26 Agustus 2010 21:24:30

Soal Citra Presiden Tidak Perlu Didramatisir

Soal Citra Presiden Tidak Perlu Didramatisir

Beritabatavia.com - Berita tentang Soal Citra Presiden Tidak Perlu Didramatisir

Pasca pernyataan Ruhut Sitompul prihal wacana perpanjangan waktu masa jabatan Presiden menjadi tiga priode menimbulkan pro kontra di berbagai ...

Soal Citra Presiden Tidak Perlu Didramatisir Ist.
Beritabatavia.com - Pasca pernyataan Ruhut Sitompul prihal wacana perpanjangan waktu masa jabatan Presiden menjadi tiga priode menimbulkan pro kontra di berbagai kalangan. Juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengaku banyak menerima pertanyaan dan klarifikasi ihwal pernyataan Ruhut yang juga kader Partai Demokrat (PD). Termasuk tulisan Profesor Mochtar Pabottingi yang dimuat di harian  Kompas edisi 23  Agustus 2010.

Menurut Julian, dirinya memiliki perasaan yang sama dengan Prof Mochtar Pabottingi yakni seperti mendengar  pernyataan yang jatuh dari langit di siang bolong tanpa ujung pangkal. Maka atas  nama akal sehat, pernyataan itu harus diluruskan. Mengapa  ditanggapi serius?

Jawabannya, kata Julian,  karena concern media massa. Menjadi penting  karena hampir semua media, baik elektronik, dunia maya, microbloggers (Facebook dan Twitter), maupun media cetak, tampak begitu bersemangat  menaikkan dan mengedepankan nyanyian sumbang itu. Substansinya  spekulatif. Seputar bahwa apakah suara itu sesungguhnya berasal dari  Istana? Atau, mungkinkah ia hanya orang suruhan?  Atau, sebaliknya,  sebagai menu pembuka hidangan politik, hitung-hitung testing the water?  Atau, mungkin ini justru perintah certiorari dari dalam parlemen  sendiri?

Lebih lanjut jubir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menjelaskan, rangkaian probabilitas di atas kemudian mendorong saya menyampaikan kepada Presiden bahwa perlu dibuat pernyataan pada saat sambutan  peringatan Hari Konstitusi. Pertimbangannya, momentumnya tepat karena  wacana itu bersinggungan dengan konstitusi. Seandainya tanpa ada  pernyataan Presiden, hampir pasti isu tersebut kemudian menggelinding  memenuhi ruang publik, menggeser isu atau substansi penting lainnya,  seraya memberi ruang yang lebih dari cukup bagi para komentator,  pengamat, atau pakar komunikasi politik untuk mengemukakan hipotesis dan  analisisnya yang belum tentu sepenuhnya benar, kalau tidak pantas  dikatakan ngawur.

Diskursus semu

Julian Aldrin Pasha meminta agar wacana seputar citra Presiden tidak perlu didramatisasi. Wacana dan diskursus terhadap hal itu sungguh tidak relevan dalam konteks Presiden  SBY. Bahwa ada garis batas dan perbedaan jelas antara politik pencitraan  serta keseriusan bersikap dan konsistensi tindakan. Politik pencitraan  adalah bentuk lain dari pepesan kosong. Tidak ada permanenitas dan  konsistensi di dalamnya. Ibarat salon mobil atau salon kecantikan, cukup  dipoles sehingga baret atau luka dapat tertutupi. Beberapa konsultan  politik telah demikian mahir sehingga mampu dalam sekejap memoles  sesuai dengan citra yang ingin diciptakan.

Namun pasti, make up semacam  itu tidak tahan lama, cepat luntur, karena tidak bersumber dari hati dan  dilakukan secara konsisten. Keseharian seorang SBY adalah bersikap dan  bertindak secara konsisten, disiplin, berdasarkan kebiasaan serta  keyakinannya.

Jika berangkat dari realitas, tudingan bahwa Presiden menghabiskan waktu  untuk membangun citra ilusif dan bersikap evasif menunda konfrontasi  dengan masalah serta sama sekali tidak fully in charge, sebagaimana  disebut sang Suhu, mahaguru, membuat saya bertanya, apakah postulat ini  berdasarkan kajian riset dan terhindar dari harum-scarum serta  bebas-nilai? Atau, hanya keyakinan berdasar informasi dunia maya dengan  sejuta ilusi di dalamnya?

Undreamed-of, memang sulit memahami secara  utuh cara berpikir, bersikap, dan bertindak seorang presiden bila  dibayangkan atau dilihat hanya dari kejauhan.
Sedikit orang yang tahu bahwa hampir seluruh waktunya didedikasikan bagi kepentingan, kemajuan, dan keselamatan bangsa dan negara. Bagaimana  seorang SBY harus menghadapi kompleksitas luar biasa dalam memimpin  negara Indonesia. Dibutuhkan wawasan pemahaman komprehensif yang cerdas,  bijak, dan terukur. Permasalahan senantiasa muncul.

Sejauh ini,  sebagian telah dikelola dengan baik, sisanya masih merupakan tantangan  untuk diselesaikan sebagai bagian dari tugas dan tanggung jawab  pemerintahan SBY hingga Oktober 2014.
Sejarah mencatat bahwa bangsa yang maju, ditopang oleh kerja keras  dari orang-orang terbaik. Ibarat logam mulia atau crème de la crème,  mereka memiliki semangat segar-sehat-harmoni, dengan pikiran maju untuk  membangun negaranya. Mereka maju karena pemerintahan berjalan optimal  tanpa diganggu oleh intrik dungu, narrow-minded, kesinisan, atau hujatan  yang dimainkan oleh sekelompok orang yang punya vested-interests.

Negara ini memiliki segalanya, termasuk resources yang diperlukan  menjadi negara maju. Menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai warga  negara dalam menjaga dan membangun negara, sebagaimana diamanatkan  founding fathers bangsa lebih dari enam puluh lima tahun lalu.

Presiden sebagai lembaga

Menurut Julian, sering kali disalah mengerti bahwa presiden sesungguhnya lembaga,  bukan pribadi. Bahwa presiden sebagai kepala pemerintahan tidak  serta-merta dikultuskan sebagai individu sebagaimana seorang pemimpin  ultra-Vires. Pandangan semacam ini mungkin bisa dipahami di masa lalu.  Ketika ekspektasi terlalu besar dialamatkan kepada lembaga kepresidenan,  jangan dilupakan bahwa ada pranata politik atau institusi lain yang  juga—harus—bekerja. Lebih dekat, spesifik, dan teknis. Lembaga  kepresidenan bukan segalanya. Di pusat juga ada kementerian dan lembaga,  sementara daerah pun memiliki lembaga sesuai tugas dan fungsi dalam  menjalankan pemerintahan.

Akhirnya, secercah harapan kepada para peneliti sosial untuk  melakukan kajian demi menjawab keraguan dan kecemasan dalam menyongsong  tantangan lima tahun ke depan, pasca-2014. Perlu dibuat proyeksi bangsa  kita ke depan. Harus diakui, setidaknya dalam lima tahun terakhir bangsa  ini telah melangkah maju. Tidak perlu terlalu pelit memberi apresiasi  karena masyarakat dunia mengakuinya. Tentu banyak hal yang masih harus  dikejar, diperbaiki, dan disempurnakan.

Sebaliknya, sebagai antisipasi  hal-hal yang dapat menjerumuskan kita menjadi failed state, sebagaimana dikhawatirkan, akan sangat diapresiasi bila muncul kajian empiris yang  mengungkapkan filling the gap, what went wrong with our lovely country?  Dan para komentator politik tidak cukup punya waktu melakukannya. O son


 
Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Senin, 26 Februari 2024
Kamis, 01 Februari 2024
Senin, 13 November 2023
Rabu, 12 April 2023
Senin, 03 April 2023
Selasa, 07 Maret 2023
Rabu, 15 Februari 2023
Senin, 06 Februari 2023
Kamis, 01 Desember 2022
Selasa, 21 Juni 2022
Rabu, 04 Mei 2022
Jumat, 29 April 2022