Beritabatavia.com -
Selama tiga tahun kepemimpinan Fauzi Bowo di DKI Jakarta, manajemen busway tak kunjung beres. Meski jadwal operasional bus Transjakarta molor sejak dua tahun lalu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono mengatakan jadwal operasional busway koridor IX dan X sudah tepat waktu.
Sudah on schedule, kata Udar kemarin. Ia memastikan busway koridor IX-X akan beroperasi pada pertengahan Desember nanti.
Menurutnya, persiapan operasional dua koridor itu memang membutuhkan waktu yang tak sebentar, terutama untuk proses administrasi lelang.
Proses administrasi kan panjang. Ada prosedurnya, dan lelangnya itu sendiri butuh 45 hari. Belum lagi proses administrasinya setelah lelang.
Saat ini, Udar melanjutkan, persiapan operasional koridor IX dan X sudah hampir rampung. Tinggal menunggu renovasi halte-halte busway dan persiapan pengadaan armada. Halte-halte secepatnya diperbaiki dan dipastikan rampung. Unit kendaraan pun akan siap diuji coba akhir Desember nanti. Sebanyak 25 bus gandeng dan 69 bus single sedang dirakit.
Udar, sebagaimana dilansir tempointeraktif.com, mengelak bahwa molornya operasional dua koridor itu karena tambahan anggaran yang belum turun. Menurut dia, operasional koridor IX dan X sudah dilakukan dalam dua tahap sesuai jadwal. Tahap pertama menggunakan anggaran APBD 2010 dan tahap kedua menggunakan APBD Perubahan 2010.
Rencana pengoperasian koridor IX-X disampaikan oleh Udar Pristono yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI dalam Rapat Kerja DPRD DKI dengan Dinas Perhubungan pada November 2006. Udar berjanji koridor itu akan siap beroperasi pada Januari 2008 (lihat infografik). Namun target terus molor karena berbagai alasan.
Selain target operasional yang terus molor, pembangunan selter mandek sejak dua tahun lalu sehingga memicu kerusakan. Kerusakan nyaris terjadi di semua selter, dari Cililitan hingga Tanjung Priok, dimulai di ruas Jalan D.I. Panjaitan, Jenderal Ahmad Yani, Yos Sudarso, Enggano, dan terminal Tanjung Priok. Selter-selter itu umumnya penuh dengan coretan cat dan tertutup debu. Beberapa selter tidak lagi dilengkapi lampu. Selter-selter itu kerap dimanfaatkan oleh sejumlah gembel atau pedagang asongan untuk berteduh. Lempeng-lempeng besinya kemudian dijual.
Tapi tak semuanya rusak. Selter Ciliitan cukup terawat karena masih digunakan bus Transjakarta koridor VII.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit menjelaskan, hambatan pengoperasian koridor X telah mengganggu mobilitas masyarakat Jakarta. Padahal jalur busway merupakan jaringan backbone bagi sarana transportasi kota, kata Danang. o tnr/nor