Beritabatavia.com -
SUMBA TIMUR, (1/8) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memproyeksikan operasional kawasan budi daya udang terintegrasi (Integrated Shrimp Farming/ISF) di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur akan menghasilkan 52.800 ton udang per tahun dengan nilai produksi sekitar Rp 4 triliun, serta menyerap sekitar 7.000 tenaga kerja pada sektor hulu, produksi, dan hilir.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, tambak ISF Waingapu seluas 2.150 hektare dirancang sebagai ekosistem industri udang yang lengkap, bukan hanya kawasan tambak. Pemerintah menyiapkan infrastruktur utama untuk mendukung proses produksi, sedangkan sektor swasta didorong memperkuat mata rantai industri dari hulu hingga hilir.
“Tambak saja dibangun tidak cukup kalau tidak diikuti hulu dan hilirnya. Nanti dibangun hatchery, pabrik pakan, fasilitas pengolahan, dan pabrik es di sini,” kata Menteri Trenggono saat meninjau progres pembangunan ISF Waingapu bersama Menko Pangan Zulkifli Hasan, Kamis (30/7).
Area produksi Tambak ISF Waingapu dirancang dalam 12 klaster yang terdiri atas 1.536 kolam budi daya, 192 tandon, dan 48 instalasi pengolahan air limbah atau IPAL klaster. Kawasan ini juga dilengkapi jaringan intake, area karantina, jalan produksi, fasilitas penunjang, serta IPAL utama seluas 82,34 hektare untuk mendukung kegiatan budi daya yang efisien, terukur, dan berkelanjutan.
Hingga 29 Juli 2026, progres pembangunan fisik telah mencapai sekitar 10 persen dengan dukungan 312 unit alat berat dan melibatkan 682 tenaga kerja konstruksi. Tahap pembangunan berlangsung pada 2026–2027, dilanjutkan operasional tahap awal pada 2027 dan operasional penuh pada 2028.
“Kalau kita yang produksi dan kita ekspor, kita akan mendapat devisa. Yang diuntungkan adalah rakyat Sumba, NTT, dan Indonesia. Itu yang disebut swasembada pangan untuk kehormatan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.
Menurutnya, kehadiran Tambak ISF Waingapu akan menciptakan efek ganda bagi perekonomian daerah. Produksi udang dalam skala besar akan meningkatkan kebutuhan jagung dan tepung ikan sebagai bahan baku pakan sehingga membuka pasar untuk hasil pertanian dan perikanan lokal. Perputaran ekonomi juga diperkirakan mendorong pertumbuhan UMKM, perhotelan, transportasi, serta berbagai layanan pendukung lainnya.
Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali menyambut pembangunan Tambak ISF Waingapu sebagai program strategis yang diyakini mampu mengubah struktur ekonomi daerah. Proyek tersebut dinilai berarti bagi Sumba Timur yang masih menghadapi angka kemiskinan hampir 25 persen karena akan membuka peluang kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Hadirnya program ini akan sangat berdampak bagi masyarakat Kabupaten Sumba Timur, terutama dari sisi terbukanya peluang lapangan kerja dan perbaikan kehidupan warga ke depan,” ujar Bupati Umbu Lili.
Pengembangan industri hulu dan hilir turut diperkuat melalui komitmen investasi Guangdong Evergreen Group. Melalui initial letter of intent, perusahaan tersebut merencanakan investasi sekitar USD158,5 juta atau setara kurang lebih Rp2,8 triliun selama tiga tahun untuk pembangunan hatchery, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan udang.
“Kami melihat Sumba Timur memiliki potensi yang sangat besar. Investasi ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi pelaku industri, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memberikan dampak positif bagi pembangunan sosial ekonomi masyarakat Sumba Timur,” ujar Perwakilan Indonesia Evergreen Group, Tina Maria.
(**)