Beritabatavia.com -
Berbeda dengan sejumlah koleganya seperti Komisaris Polisi (Kompol) Iwan Siswanto kepala Rutan Kelapadua, Depok, Bogor yang memberikan izin Gayus pelesiran hingga ke Bali, maupun Kompol Arafat Enanie penyidik Bareskrim Polri yang terlibat dalam kasus mafia hukum.
Kompol Frans H Matondang adalah seorang perwira menengah yang berhasil meraih segudang prestasi sekaligus mengharumkan nama Polri dan bangsa Indonesia lewat olahraga bela diri karate di kancah dunia Internasional. Pemegang Dan V karateka ini, kini dipercaya sebagai salah satu wasit karate tingkat Internasional. Dengan terpilihnya sebagai wasit internasional, maka, tidak heran jika Kompol Frans hadir diberbagai Negara yang sedang menyelengarakan pertandingan karate. Sebelumnya, Frans juga terpilih menjadi wasit karate terbaik se Asia di Kualalumpur, Malaysia pada 2001.
Pria bernama Frans Hatubuan Matondang dilahirkan di sebuah desa yang terletak di tepian danau Toba, Pulau Samosir, Sumatera Utara pada 27 Oktober 1954 silam. Di desa nan indah permai itulah Frans menghabiskan masa kecilnya, kemudian melanjutkan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Pematang Siantar dan lulus 1975. Sejak di kota inilah Frans mengenal dan mulai jatuh cinta dengan dunia bela diri karate. Tekad dan kesungguhan serta keseriusannya menjadi modal utama yang mendorongnya untuk giat berlatih diperguruan Konsyuro Karateka Indonesia (KKI) hingga meraih sabuk hitam Dan V karate.
Setahun setelah lulus STM, pada 1976 lewat jenjang pendidikan Tantama Polri, Frans resmi menjadi anggota Bhayangkara dan bertugas di Brimob Kelapadua, Depok Bogor. Tapi, semangat olah raga bela diri karate yang sudah menjadi bagian kehidupannya, terus berkobar. Dia tak pernah berhenti berlatih, hasilnya, lewat olah raga bela diri karate, Frans mengukir segudang prestasi, baik dalam event nasional maupun Internasional. Bahkan, Frans mengaku sudah lupa apa saja deretan prestasi yang pernah diraihnya sejak menjadi atelit karate. Namun, kesuksesan itu tak membuat bapak dua anak ini merasa lebih dari orang lain. Sebaliknya sikap sportif dan saling menghormati merupakan sifat dan perilakunya yang menonjol dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, Kompol Frans mengaku, tidak pernah merasa telah memberikan yang terbaik bagi negeri ini, jika dibandingkan dengan yang didapatnya di negeri ini. Sehingga dirinya selalu dan terus berupaya untuk melakukan yang terbaik. Apa yang saya dapat merupakan hasil dari sikap yang selama ini saya pegang yaitu keyakinan, kejujuran dan kemampuan. Itulah yang menjadi filosofi hidup saya, kata Frans saat ditemui di ruang kerjanya di Direktorat Pam Obvit Polda Metro Jaya, beberapa waktu lalu. Pada kesempatan itu, Frans juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinannya yang telah memberikan kesempatan untuk tetap menggeluti karate, tapi tetap sebagai anggota Polri. Terima kasih kepada semua pimpinan Polri yang telah mendukung hingga saya bisa meraih prestasi di dunia karate, ujar Frans.
Karateka Polri ini tak jarang mempergunakan ilmu beladirinya untuk menunjang tugas sebagai anggota Polri. Hal tersebut dirasakan Frans, saat bertugas di Polres Metro Jakarta Pusat 1979-1994. Ketika itu Frans dilibatkan dalam tim pengejaran penjahat kelas kakap Selamat Gundul. Selama pengejaran itulah, Frans tentu memiliki ketahanan fisik dan mental yang lebih dari rekan-rekannya.
Setahun setelah lulus pendidikan sekolah Bintara (Secaba-1983) Frans kemudian berhenti sebagai atelit kareta nasional dengan alasan usia. Lalu pada 1985 Frans terpilih menjadi wasit karate tingkat Asia Pasifik hingga sekarang. Kemudian mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa) dan lulus pada 1995.
Lalu pimpinan Polri memberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai Kasat Lantas Polres KPPP Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sebelum menjabat kepala unit di Direktorat PAM Obvit Polda Metro Jaya, Kompol Frans bertugas di Satuan Provost Polda Metro Jaya. 0 son