Beritabatavia.com -
Laba PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) jeblok 58,5% dari Rp1,01 triliun pada 2009 menjadi Rp515,5 miliar pada 2010. Padahal, penjualan perseroan mengalami kenaikan di 2010 menjadi Rp19,5 triliun dari Rp17,8 triliun di 2009. Untuk laba usaha di 2010 menjadi Rp67,1 miliar karena beban usaha mencapai Rp19,6 triliun. Sedangkan pada tahun 2009 laba usaha sebesar Rp918,2 miliar dengan beban usaha sebesar Rp16,9 triliun.
Laba turun ini, disebabkan karena sebelum IPO di 2010 kita melakukan berbagai investasi yaitu berupa pembelian 24 pesawat baru sehingga konsekuensinya harus dilakukan penambahan crew and enginer, ungkap Direktur Keuangan GIAA Elisa Lumbuantoruan di Jakarta, Kamis (31/3).
Elisa menjelaskan, dengan adanya penambahaan crew dan enginer yang baru maka perseroan harus melakuka proses konversi yang membutuhkan waktu cukup lama guna meningkatkan kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di perseroan.
Jadi ada mix and match anatara jumlah pilot dan jumlah pesawat, contohnya kita harus mengeluarkan biaya untuk sekolah para pilot selama kurang lebih tujuh bulan pelatihan dengan biaya USD30-USD50 ribu per pilot, paparnya.
Selain itu penyebab turunnya laba bersih perseroan di tahun ini adalah adanya beberapa rute baru baik di dalam dan di luar negeri yang dibuka di 2010. Tekanan terhadap laba bersih perseroan tampak masih akan terjadi lantaran yield tidak langsung terjadi.
Kalau di airline butuh waktu yang panjang untuk yield-nya bagus. Misalnya penerbangan domestik, setidaknya butuh waktu selama enam bulan agar yield-nya bagus, di samping itu rute baru kan frekuensinya masih rendah, ungkap Elisa.
Selain itu bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini seperti Gunung Merai, Gungung Bromo dan sebagainya menyebabkan perseroan mengurangi frekuensi penerbangan ke sejumlah daerah seperti Yogyakarta, Solo, Semarang dan Malang. Selain itu, dengan harga minyak dunia yang mengalami kenaikan sebesar 29 persen juga berakibat bertambahnya 32 persen operating cost perseroan. o end