Senin, 30 Mei 2011 10:11:23

Kita Hidup di Negeri Tergadai

Kita Hidup di Negeri Tergadai

Beritabatavia.com - Berita tentang Kita Hidup di Negeri Tergadai

Peringatan berbagai kalangan dari mulai budayawan, ilmuan maupun rohoniawan hingga kelompok pensiunan serta sejumlah kelompok masyarakat cinta tanah ...

Kita Hidup di Negeri Tergadai Ist.
Beritabatavia.com - Peringatan berbagai kalangan dari mulai budayawan, ilmuan maupun rohoniawan hingga kelompok pensiunan serta sejumlah kelompok masyarakat cinta tanah air, agar Indonesia kembali ke jati diri, jangan sampai terlambat.
Apabila kita kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia, maka, kita seperti hidup dinegeri yang sudah tergadai. Jangan lagi, bumi  Indonesia hanya kita disemarakkan dengan retorika dan impian-impian indah tentang kekayaan alam dan cita-cita yang melambung tinggi, tapi tak mewujudkannya.
Kehidupan kita belakangan ini, terus dibumbui pertikaian politik dan sikap saling mencurigai  yang tak putus-putus. Setiap hari disuguhi berita-berita praktik korupsi serta tindakan dan prilaku tak terpuji. Semuanya membuat semangat mencintai bangsa dan negeri ini, kian melemah.
Sebagai anak bangsa, kita juga nyaris kehilangan rasa memiliki negeri ini. Sekelompok orang berlomba meraih kekuasaan untuk kepentingan golongannya. Tak pelak,  kekuasaan itu digunakan untuk menggadaikan negeri ini, tanpa peduli terhadap generasi selanjutnya.
Rasa Kebangsaan Melemah
Memasuki usia 66 tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Merdeka dan 13 tahun reformasi berjalan, tak serta merta membuat  masyarakatnya sejahtera. Justru sebaliknya, sebagian besar masyarakat dihantui kesulitan dan kekhawatiran akan masa depannya, karena tak ada kepastian.
Padahal, sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, seyogianya dapat berkreasi dan berinovasi untuk membangun negeri sendiri, sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Seharusnya, bumi, laut dan udara beserta isinya yang menjadi ruang lingkup dan bagian dari NKRI dikelola oleh bangsa Indonesia sendiri.
Begitu juga tata dan aturan kehidupan antar bangsa. Hendaknya dibuat atas dasar  kesepakatan yang saling membutuhkan terhadap  keinginan untuk  hidup berdampingan. Tanpa ada kesan atau upaya saling merendahkan, apalagi menguasai. Untuk itulah pentingnya, kita memiliki indentitas sebagai bangsa yang tidak mudah goyah, meskipun kaya dengan kesulitan.
Sektor Ekonomi Dikuasai Asing
Tetapi, melihat gambaran bangsa ini terutama dibidang ekonomi, sesungguhnya kita sudah tak memiliki apa-apa lagi. Karena dominasi asing sangat kental menguasai semua sektor dari hulu hingga ke hilir. Minyak yang menjadi primadona mengisi pundi-pundi negara, sebanyak 75 persen dikuasai asing. Sedangkan bidang perbankan, sebanyak 50,6 persen kepemilikannya ditangan asing. Hal serupa juga terjadi dibidang perkebunan kelapa sawit bahkan sektor telekomunikasi.
Tak berbeda dengan sektor perdagangan dan pangan, penguasaan asing lewat perusahaan multinasional kian tak terbendung. Semua sarana produksi pertanian seperti benih, obat-obatan  sampai industri pengolahan, pengepakan, angkutan nyaris dikuasai asing. Bahkan sejumlah perusahaan Agroindustri sudah dimiliki asing hingga 100 persen. Seperti PT ABC Central Food yang memproduksi kecap, sirup dan saos, sebesar 65 persen sahamnya dimiliki HJ Heinz (AS). Kemudian  100 persen saham PT Sariwangi yang memproduksi teh  dan Kecap Bango oleh PT Sakura Aneka Food serta makanan ringan  Taro oleh PT Rasa Murni Utama dimiliki oleh unilever Inggris.
Kemudian 74 persen saham PT tirta Investama yang memproduksi Aqua dikuasai Danone Prancis. Sedangkan 100 persen saham PT Helios Arya Putra yang memproduksi biskuit ‘helios , nyam-nyam serta PT Adel Alfindo Putra Setia serta PT HM Sampoerna dimiliki  oleh  Campable dan Coco Cola serta Philip Morris ,Amerika Serikat. Serta 82 persen saham PT Sarihusada yang memproduksi  susu dan makanan bayi dimiliki  Numico, Belgia.
Penjajahan Modren
Memang, kita tidak perlu  merasa takut terhadap asing. Karena, kita tidak mungkin bisa menutup diri terhadap perkembangan dan kemajuan yang semakin terbuka. Kita juga tak bisa menghindar dari sistim ekonomi pasar bebas (Liberal) yang disertai masuknya arus modal asing. 
Tetapi, kita jangan sampai tergerus arus besar, bahkan melupakan jati diri sebagai bangsa. Jika dominasi asing tidak terkontrol, bisa saja  semua aset menjadi milik asing. Apabila itu terjadi, maka ancaman terhadap integritas bangsa, sudah di depan mata. Sehingga kita akan kehilangan kedaulatan.
Kita harus ingat, penjajahan modren tidak lagi dilakukan secara fisik. Tetapi sudah berorientasi kepada penguasaan sektor ekonomi, dan kemudian berkembang untuk mempengaruhi pola berfikir kita. Dengan tujuan untuk menguasai dan bisa mengatur  para pembuat  peraturan dan perundang-undangan agar sesuai dengan keinginan asing.
Seperti yang terjadi pada kontrak karya tambang emas  di Nusa Tenggara Barat yang mengatur royalti untuk negara yang hanya ditetapkan atas dasar harga tetap 300 dolar AS per troy ounce. Padahal harga emas sekarang ini sudah mencapai 1.500 dolar AS per troy ounce.
Peran Pemerintah
Dalam kondisi seperti saat ini, keberadaan Negara dan pemerintah dan sangat dibutuhkan. Pemerintah mutlak mengatur jalannya roda perekonomian yang bertujuan memberikan kemakmuran kepada seluruh rakyat. Kita sebagai bangsa, harus mengatur kehadiran modal asing untuk ikut memberi kesejahteraan kepada rakyat Indonesia.
Boleh saja kita menerima paham liberal, tetapi tidak memberikan peluang kepada asing untuk mengatur dan mengurus dapur dan menu makanan yang akan kita komsumsi. Semuanya harus berjalan sesuai dengan kepetingan nasional dan bangsa Indonesia. Serta melawan semua upaya maupun tindakan yang dapat merugikan bangsa dan negara.

Inilah saatnya, kita melanjutkan tujuan besar kehidupan berbangsa dan bernegara secara benar. Termasuk dalam tata cara pengelolaan ekonominya. Jika, kita terus membiarkan pengelolaan ekonomi dicampuri bahkan didominasi asing. Maka, tidak usah menyesal, apabila kita hanya tercatat sebagai bangsa yang hidup di negeri yang sudah tergadai. Sekaligus, kita menjadi sebuah bangsa yang gagal mencapai tujuan kemerdekaan. Tercatat pula, memiliki  sebuah pemerintahan yang tak berdaya untuk memberikan kesejahteraan pada rakyatnya. 0 Edison Siahaan


Berita Terpopuler
Berita Lainnya
Senin, 26 Februari 2024
Kamis, 01 Februari 2024
Senin, 13 November 2023
Rabu, 12 April 2023
Senin, 03 April 2023
Selasa, 07 Maret 2023
Rabu, 15 Februari 2023
Senin, 06 Februari 2023
Kamis, 01 Desember 2022
Selasa, 21 Juni 2022
Rabu, 04 Mei 2022
Jumat, 29 April 2022