Beritabatavia.com -
Kita kerap terlihat gelagapan, gamang dan panik jika mendapat ancaman. Sehingga Bangsa Indonesia disebut bangsa paranoid istilah populernya ‘parno’.
Kondisi itu terlihat jika, kita mengalami masalah kekurangan bahan pangan. Sama seperti ancaman yang dilakukan Australia yang akan menghentikan ekpor sapi ke Indonesia. Padahal, bangsa Indonesia sejak dulu sudah mengalami yang namanya serba kekurangan. Kita sudah terbiasa hidup dalam kesulitan, bahkan keselamatan jiwa juga nyaris pupus di negeri ini.
Padahal, ancaman yang datang sebetulnya bisa dijadikan sebagai cambuk untuk meningkatkan produktivitas agar mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Seandainya, Australia benar-benar tidak mengeskpor sapi ke Indonesia. Justru,menjadi kesempatan baik, kita mengembangkan peternakan sapi. Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sumatera, Kalimantan dan pulau lainnya merupakan daerah potensial untuk dijadikan sebagai areal peternakan sapi.
Bahkan, beternak sapi sudah menjadi tradisi yang turun temurun bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Pemerintah tinggal memberikan penyuluhan dan bantuan ilmu pengetahuan tehnologi, maka soal sapi tidak lagi menjadi masalah serius di negeri ini. Rakyat Indonesia adalah bangsa pekerja keras, apabila melihat contoh yang baik dari para pemimpinnya. Apalagi disusul dengan keinginan politik yang bertujuan demi mensejahterakan rakyat. Maka, semua ancaman yang datang menerpa bangsa Indonesia, harus dijadikan sebagai kesempatan emas.
Kesempatan Emas
Pemerintah hendaknya berfikir, bahwa ancaman itu harus menjadi kesempatan emas untuk mulai membangun peternakan, pertanian, perikanan dan semua yang menyangkut kebutuhan rakyat Indonesia. Jangan justru jadi goyah, gamang, bahkan parno, jika diancam bangsa lain. Tetapi, seharusnya berani mengatakan bahwa kita mampu untuk mencukupi kebutuhan protein hewani sendiri, bahkan semua kebutuhan rakyat Indonesia.
Dunia mengakui, bumi Indonesia kaya akan sumber daya alam, darat, laut dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Di bumi pertiwi ini semua tersedia, untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Apalagi kita memiliki nenek moyang yang handal bertani, nelayan yang piawai menjadikan laut sebagai sahabat. Sebenarnya, tidak ada yang kurang di negeri ini.
Semangat untuk Berdikari
Kita tidak perlu merundukan kepala kepada negara lain, apalagi hanya karena urusan daging sapi, cabai,minyak goreng, beras dan ikan. Bangsa ini kuat dalam segala cuaca, bahkan menahan lapar, jika memang harus seperti itu. Tetapi, pemerintah harus berdiri digarda depan untuk mengobarkan semangat agar menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari). Pemerintah, mengajak semua masyarakat untuk bekerja sesuai dengan profesi dan keahlian yang dimiliki masing-masing. Tidak perlu terlalu berharap dengan negara-negara maju, apalagi sampai mengemis, hanya soal urusan penyediaan pangan, sandang, dan papan.
Kita juga tidak perlu bereaksi belebihan bahkan mengobarkan semangat konfrontasi dengan alasan harga diri dan rasa kebangsaan, jika mendapat ancaman, maupun kritik. Tetapi, kita menjadikannya sebagai pemicu semangat dan alat instropeksi ke dalam. Seraya terus melakukan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan ilmu pengetahuan, agar menjadi handal dan piawai serta hidup berdampingan saling menghormati dan mempertahankan keutuhan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).
Ke depan, tidak lagi ditemukan seseorang yang memiliki keahlian tertentu, tanpa dibekali pengetahuan yang memadai. Pemerintah, segeralah menyiapkan sarana dan prasarana untuk memberikan ketrampilan bagi rakyat lewat kursus-kursus. Elit negeri ini hendaknya berhenti melakukan manuver-manuver politik, ekonomi hanya untuk kepentingan kelompok dan golongannya.Tetapi, semuanya bersatu membangun bangsa, untuk meraih sukses sehingga Indonesia menjadi sebuah negara yang diperhitungkan oleh negara-negara di muka bumi ini.
Kita tidak perlu takut, karena potensi yang kita miliki sangat luar biasa. Tinggal, apakah kita memiliki kemauan.0 Edison Siahaan