Rabu, 05 Oktober 2011 17:19:32

Mayor John Lie ‘Legendaris’ Selundupkan Senjata

Mayor John Lie ‘Legendaris’ Selundupkan Senjata

Beritabatavia.com - Berita tentang Mayor John Lie ‘Legendaris’ Selundupkan Senjata

Tidak hanya kaum pria warga etnis Tionghoa, tapi kaum perempuan juga berperan dan banyak memberikan sumbangsih ...

Mayor John Lie ‘Legendaris’ Selundupkan Senjata Ist.
Beritabatavia.com - Tidak hanya kaum pria warga etnis Tionghoa, tapi kaum perempuan juga berperan dan banyak memberikan sumbangsih untuk merebut kemerdekaan. Mereka ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

PERAN aktif warga etnis Tionghoa dalam sejarah perjuangan sejak penjajahan Belanda hingga kemerdekaan tidak tersanggahkan. Mereka melakukan berbagai aktivitas untuk memberikan dukungan terhadap para pejuang kemerdekaan. Tidak heran, jika budaya dan seni tradisional sejumlah daerah pun sudah diwarnai budaya tradisi  Tionghoa.

Sayangnya, peran dan konrtibusi para warga etnis Tionghoa tidak banyak diungkap. Padahal, aksi para warga etnis Tionghoa itu tidak hanya dilakukan di Pulau Jawa, tetapi juga di berbagai pelosok nusantara.

Setelah pada  masa revolusi, Liem Sioe Liong (red- Soedono Salim-pengusaha) pernah menyembunyikan buronan Belanda yang ternyata adalah   Hasan Din, seorang tokoh Muhammadiyah  yang juga ayahanda Fatmawati dan mertua presiden pertama Indonesia Soekarno.Kemudian Chung Hua Tsung Hui (CHTH) Yogyakarta yang mengumpulkan dana  sebesar Rp 250.000 untuk disumbangkan ke republik. Mereka juga mengumpulkan bahan pakaian untuk angkatan bersenjata Republik. Kemudian menyediakan makanan 1500 orang setiap harinya untuk dapur umum Palang Merah Indonesia (PMI) pada November 1945.

Anggota Legiun Veteran RI

Tercatat juga nama Tang Kim Teng, seorang Tionghoa totok yang bergabung dengan Resimen IV, Divisi IX Banteng wilayah Sumatera Tengah pimpinan Hassan Basri.  Kim Teng bertugas mencari senjata, bahan peledak, uniform tentara, sepatu, obat-obatan dan perbekalan lainnya di Singapura.
 
Masih ada lagi orang-orang Tionghoa dalam Resimen IV tersebut, seperti Lie Ban Seng, Lie Chiang Tek, Kui Hok, Tji Seng, Tan Teng Hun, Lai Liong Ngip, Chu Chai Hun dan Chia Tau Kiat.
Tan Teng Hun disebutkan telah mengeluarkan dana besar untuk membeli senjata api dari Singapura, seragam tentara dan obat-obatan. Akhirnya sebagian dari mereka mendapat anugrah  bintang jasa RI dan menjadi anggota Legiun Veteran RI .

Tidak hanya itu, ada juga sumbangan lain berupa doktrin perang gerilya. Berdasarkan pemaparan dr Abu Hanifah saat berjuang di Sukabumi melawan Belanda, menunjukkan bahwa booklet perang gerilya karangan Mao Tse Tung (Mao Zhedong) banyak digunakan sebagai buku pegangan (handbook) oleh pasukan republik. Buku strategi tersebut diterjemahkan oleh seorang warga Tionghoa totok ke dalam bahasa Indonesia.

Peran Perempuan Tionghoa

Ternyata warga etnis Tionghoa yang ikut bahu membahu mambangun dan membantu perjuangan tidak hanya kaum pria. Kaum perempuan Tionghoa pun tidak berpangku tangan, mereka ikut secara langsung membela ibu pertiwi.
Salah satu contoh adalah Giam Lam Nio alias Ny Liem Thiam Kwie (1901-1953). Ia secara langsung ikut menyediakan makanan di dapur umum saat revolusi di Jawa Timur.
Di kalangan prajurit TNI, Giam Lam Nio dikenal dengan panggilan akrab Ibu Liem. Atas jasa dan pengorbanannya, almarhum Ibu Liem dimakamkan di pekuburan Tionghoa di Sepanjang, Surabaya. Dan peti jenazahnya dibungkus dengan bendera merah putih. Bahkan, pemakaman berlangsung dengan upacara militer, pada 5 Juli 1953 silam. 

Upacara pemakamannya yang dipimpin Kapten Soesilo dari Divisi Brawijaya dihadiri antara lain oleh Walikota Soetimbul, dan Kolonel Bambang Soegeng sebagai Kasad. Bagi tentara revolusi 1945 ia bukan seorang ibu biasa. Ia adalah ibu mereka yang dengan segala kasih sayang menyokong perjuangan kemerdekaan dengan mengatur dapur umum siang malam dalam kondisi apapun.

Tercatat pula, Ibu Liem senantiasa siap sedia diminta bantuan menyediakan makanan bagi patriot yang bertempur di garis depan. Setelah penyerahan kedaulatan, Ibu Liem masih tetap membantu dengan mengurus panti Perwira di Malang, Jawa Timur.

Mayor John Lie Selundupkan Senjata

Sumbangsih warga etnis Tionghoa paling spektakuler dalam bidang militer terwujud dalam sosok Mayor (AL) John Lie. Ia menjadi penyelundup senjata untuk kemudian didistribusikan kepada militer Republik Indonesia.
Mayor John Lie  dikenal sebagai tokoh legendaris, yang banyak mendapat penghormatan dan rasa kagum dari para pejuang Indonesia. Sebagai seorang nakhoda, John Lie dipercaya pemerintah Republik untuk menjual komoditas Indonesia untuk ditukar dengan persenjataan, peralatan komunikasi dan obat-obatan yang amat dibutuhkan dalam melawan Belanda. Daerah operasinya cukup luas, meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila dan New Delhi.

Saat Indonesia diblokade secara ketat oleh Belanda, John Lie berhasil menembus kepungan itu dan mendapat julukan Nakhoda Terakhir Republik. Dia pensiun sebagai Laksamana Muda dan berganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Sejarawan Asvi Warman Adam, di awal 2004 menominasikan John Lie sebagai pahlawan nasional atas jasa-jasanya yang luar biasa kepada Negara Republik Indonesia. Akhirnya John Lie, atas usulan Yayasan Nabil, diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009.
Kemungkinan peran dan kontribusi warga etnis Tionghoa yang tertera ini masih sebagian kecil. Karena, tidak menutup kemungkinan masih banyak peran dan sumbangsih warga etnis Tionghoa dalam menegakkan panji-panji kemerdekaan yang telah dikibarkan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 yang tidak tercatat, apalagi di sosialisasikan kepada masyarakat luas.

Mengingat, warga Tionghoa pernah mengalami diskriminasi politik di negeri ini. Sehingga, catatan tentang peran dan upaya warga Tionghoa bisa saja tercecer atau hilang bahkan mungkin saja dihilangkan.
Padahal, tidak diragukan lagi, mereka telah ikut memberikan andil dalam mengusir penjajah dan turut mendirikan NKRI bersama saudara-saudaranya dari berbagai suku bangsa. Diharapkan, semua pihak terdorong untuk aktif mengumpulkan bahan-bahan historis yang masih belum terungkap. Karena, sejarah sangat berperan sebagai sarana integrasi nasional.0 DK/son



Berita Lainnya
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Minggu, 10 Mei 2026
Sabtu, 09 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Kamis, 07 Mei 2026
Selasa, 05 Mei 2026